Kamis, 30 Juni 2022

PT Equityworld Futures : Minyak Naik Di Tengah Meningkatnya Kekhawatiran Pengetatan Pasokan

Equityworld Futures - Minyak naik di Asia saat masalah terbatasnya pasokan global melebihi sentimen peningkatan persediaan bensin dan sulingan AS.

Harga minyak Brent naik 0,36% ke $112,84 per barel dan harga minyak WTI naik 0,22% di $110,02 per barel.

"Minyak mentah naik di awal perdagangan setelah laporan persediaan cukup positif. Penurunan didorong oleh penyuling yang meningkatkan produksi di tengah margin penyulingan yang tinggi secara historis,"

Data pasokan minyak mentah AS dari Badan Informasi Energi menunjukkan penurunan sebanyak 2,762 juta barel untuk pekan terakhir 24 Juni sementara stok bensin dan sulingan AS naik.

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Harga Emas Turun, Bank Sentral Ambil Langkah Agresif Lawan Inflasi

Beberapa analis berpikir gangguan lanjutan seperti kisruh di negara produsen Libya dan Ekuador dapat mendukung harga minyak.

Namun, kekhawatiran atas perlambatan pertumbuhan ekonomi terus membatasi kenaikan harga.

“Baru-baru ini kenaikan suku bunga agresif bank sentral dan perlambatan pertumbuhan ekonomi global telah menekan pasar komoditas. Spekulasi pelepasan cadangan minyak AS lainnya dan peningkatan produksi minyak OPEC juga melatih kembali momentum kenaikan pasar minyak,”

Data pasokan minyak mentah dari American Petroleum Institute yang dirilis sehari sebelumnya, menunjukkan penurunan sebanyak 3,799 juta barel.

 

 

 Equityworld Futures

Rabu, 29 Juni 2022

PT Equityworld Futures : Harga Emas Stabil, Investor Tertuju ke Pidato Powell

Equityworld Futures - Harga emas stabil dan cenderung stagnan pada perdagangan setelah mengalami penurunan dua hari. Hal ini karena pejabat Federal Reserve mengecilkan risiko resesi AS bahkan saat mereka memperketat kebijakan moneter.

Meski demikian, melansir Monex Investindo, harga Emas berpeluang bergerak turun dalam jangka pendek pada hari ini dibalik outlook menguatnya dollar AS dan tingginya tingkat imbal hasil obligasi AS di tengah prospek kenaikan suku bunga agresif dari Federal Reserve AS.

Namun, penurunan dapat terbatas jika pasar mencari aset safe haven logam mulia dibalik kekhawatiran terhadap resesi ekonomi global. Selanjutnya fokus pasar hari ini akan tertuju ke pidato ketua The Fed Jerome Powell.

Mengutip Bloomberg, Gubernur The Fed Jerome Powell pekan lalu menyebut komitmennya untuk mengendalikan inflasi tanpa syarat memicu kekhawatiran bahwa pengetatan agresif dapat memicu resesi. Namun, investor telah mengurangi posisi emas mereka. Investor juga menimbang laporan bahwa AS, Inggris, Jepang dan Kanada berencana untuk mengumumkan larangan impor emas baru dari Rusia selama pertemuan puncak para pemimpin G7.

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Harga Emas Naik Ditopang oleh Kekhawatiran Resesi

Harga emas spot (XAU/USD) naik 0,1% ke 1.820 per ounce. Harga emas berjangka juga turun 0,01% ke USD 1.820,50.

Dari riset Valbury Asia Futures, juga memprediksi harga emas turun karena prospek suku bunga yang lebih tinggi di imbangi oleh kekhawatiran terkait resesi.

"XAU/USD berada di resistance 1826.66 dan support 1815.59,"

Komoditas berharga lainnya yakni perak stabil, sementara platinum dan paladium naik. 

Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS (US Treasury Note) bertenor 10 tahun turun 3 bps menjadi 3.17% karena investor sibuk mencerna sejumlah rilis data ekonomi AS

Di pasar komoditas, harga minyak mentah reli selama 3 hari beruntun setelah negara produsen besar seperti Arab Saudi dan UEA tampak tidak mungkin mampu menaikkan volume produksi mereka secara significant pada saat dunia barat sepakat untuk mengeksplorasi cara untuk membatasi harga pembelian minyak dari Rusia.

 

 

Equityworld Futures

Selasa, 28 Juni 2022

PT Equityworld Futures : Harga Emas Naik, Ekspektasi Inflasi Surut


Equityworld Futures - Harga emas naik di Asia beriringan dengan dolar AS naik tipis di tengah berkurangnya ekspektasi inflasi.

Harga emas berjangka naik tipis 0,12% di $1,826,95/oz. Dolar AS, yang biasanya bergerak terbalik dengan emas, juga naik tipis pada Rabu pagi. Surutnya ekspektasi inflasi mendorong peninjauan kembali terhadap prospek kenaikan suku bunga yang agresif.

Imbal hasil acuan Treasury 10 tahun stabil, menjaga kenaikan emas tetap terkendali.

Sebagai cara untuk memperketat sanksi terhadap Rusia atas invasinya ke Ukraina, AS, Inggris, Jepang, dan Kanada juga berencana mengumumkan larangan impor emas baru dari Rusia selama KTT G7.

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Resesi Ekonomi Masih Jadi Katalis Positif Emas, Trading Bisa Jadi Opsi

Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde, Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell, Gubernur Bank of England Andrew Bailey, dan Presiden Fed Cleveland Loretta Mester akan berbicara dalam acara ECB Rabu ini.

Data pesanan barang tahan lama inti yang mengukur nilai total pesanan baru untuk barang manufaktur tahan lama meningkat 0,7% di bulan Mei, dan ini menunjukkan kekuatan berkelanjutan dalam pengeluaran bisnis untuk peralatan, tetapi kenaikan suku bunga dapat memperlambat momentum.

Di Asia Pasifik, data resmi Hong Kong pada hari Senin menunjukkan bahwa impor emas bersih China melalui Hong Kong naik 58,3% pada bulan Mei bulan ke bulan karena pembatasan COVID-19 melonggar di kota-kota besar.

Pada logam mulia lainnya, perak turun tipis 0,02%. Platinum naik tipis 0,01% sementara palladium naik 0,94%.

 

 

 Equityworld Futures

Senin, 27 Juni 2022

PT Equityworld Futures : Minyak mentah lebih tinggi pada jam perdagangan Eropa


Equityworld Futures
- Pada New York Mercantile Exchange, Futures minyak mentah untuk penyerahan Agustus diperdagangkan pada USD106,52 per barrel pada waktu penulisan, meningkat 2,16%.

Instrumen ini sebelumnya diperdagangkan sesi tinggi USD per barrel. Minyak metah kemungkinan akan mendapat support pada USD101,58 dan resistance pada USD112,47.

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Emas lebih tinggi pada masa dagang Eropa


Indeks Dolar AS Berjangka yang memantau kinerja greenback versus keranjang enam mata uang utama lainnya, jatuh 0,09% dan diperdagangkan pada USD104,10.

Sementara itu di ICE, Minyak brent untuk penyerahan Agustus naik 1,97% dan diperdagangkan pada USD112,22 per barrel, sedangkan spread antara kontrak Minyak brent dan Minyak metah berada pada USD5,70 per barrel.



Equityworld Futures

Jumat, 24 Juni 2022

PT Equityworld Futures : Minyak Turun, Permintaan Lemah dan Ada Ketidakpastian Pasokan

Equityworld Futures - Minyak turun di Asia seiring potensi melambatnya permintaan karena penurunan pertumbuhan ekonomi AS dan kekhawatiran pasokan membebani pasar.

Harga minyak Brent turun tipis 0,09% di $109,94 per barel dan harga minyak WTI naik 0,14% ke $104,42 per barel.

Minyak mentah berjangka masuk dalam tekanan jual setelah indeks manajer pembelian manufaktur dan jasa (PMI) AS mengecewakan, bersama dengan penurunan data manufaktur Jerman, Managing Partner SPI Asset Management Stephen Innes mengatakan kepada Reuters.

"Dalam kondisi ini, harga minyak mentah yang tinggi akan menjadi sangat sensitif terhadap input pasokan yang dirasakan atau meningkat," sebut Innes, mencatat tanda-tanda minyak mentah Rusia menghantam kompleks minyak dan meningkatnya tekanan pada OPEC untuk menambah produksi.

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Harga Emas Turun Di Tengah Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Besar

Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan mitranya (OPEC+) termasuk Rusia kemungkinan akan tetap melanjutkan rencana untuk meningkatkan produksi sebanyak 648.000 barel per hari pada bulan Agustus, yang berharap dapat menurunkan harga minyak mentah beriringan dengan rencana Presiden AS Joe Biden mengunjungi Arab Saudi, menurut Reuters.

Namun, kelompok tersebut telah kesulitan memenuhi target kenaikan bulanan karena kurangnya investasi di ladang minyak beberapa anggota OPEC dan kerugian dalam produksi Rusia.

Data pasokan minyak mentah AS dari American Petroleum Institute menunjukkan peningkatan sebanyak 5,607 juta barel untuk pekan terakhir 17 Juni.

Data minyak mingguan Badan Informasi Energi AS akan ditunda hingga setidaknya minggu depan karena masalah sistem.

 

 

Equityworld Futures

Kamis, 23 Juni 2022

PT Equityworld Futures : Minyak Anjlok 2% Lagi Hari Ini, Investor Khawatir Resesi Terus Tumbuh

Equityworld Futures - Minyak anjlok di Asia. Investor kembali khawatir bahwa pengetatan kebijakan moneter dapat memicu resesi dan mengurangi permintaan bahan bakar.

Harga minyak Brent jatuh 2,31% ke $109,16 per barel dan harga minyak WTI anjlok 2,61% di $103,42 per barel.

Investor khawatir terhadap resesi yang timbul karena pengetatan kebijakan moneter. Federal Reserve AS tidak tengah mencoba memicu resesi untuk menjinakkan inflasi tetapi berkomitmen penuh untuk menurunkan harga, Ketua Fed Jerome Powell.

"Pasar minyak tetap di bawah tekanan lantaran investor khawatir bahwa kenaikan suku bunga AS akan menghambat pemulihan ekonomi dan mengurangi permintaan bahan bakar," Kepala Analis Fujitomi Securities Co. Ltd. Kazuhiko Saito mengatakan kepada Reuters.

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Harga Emas Turun Kamis, Investor Nilai Kenaikan Suku Bunga Agresif dari The Fed

“Hedge fund AS dan Eropa telah menjual posisi mereka menjelang akhir kuartal II, yang juga menenangkan sentimen investor,”

Presiden AS Joe Biden meminta Kongres AS untuk sementara menangguhkan pajak federal atas bensin guna menurunkan harga bahan bakar yang melonjak dan memberikan beberapa bantuan kepada keluarga Amerika sebelum puncak musim panas.

“Berita itu untuk sementara mendorong harga produk minyak, tetapi kemudian dilihat bahwa bahkan jika pajak bensin ditangguhkan, harga ritel akan tetap tinggi, sehingga sulit untuk merangsang permintaan,”

Data pasokan minyak mentah dari American Petroleum Institute menunjukkan peningkatan 5,607 juta barel untuk pekan terakhir 17 Juni.

Data minyak mingguan Badan Informasi Energi AS akan ditunda hingga setidaknya minggu depan karena masalah sistem.

 

 

 Equityworld Futures

Rabu, 22 Juni 2022

PT Equityworld Futures : Harga Minyak Jatuh 3%, Ini Langkah Biden Turunkan Biaya BBM AS

Equityworld Futures - Minyak anjlok di Asia. Kabar terbaru komoditas ini yakni, Presiden AS Joe Biden akan mendorong pemotongan biaya bahan bakar di AS.

Harga minyak Brent anjlok 3,03% di $111,18 per barel dan harga minyak WTI jatuh 3,37% di $105,83 per barel.

Presiden AS Joe Biden diharapkan akan meminta Kongres AS untuk menangguhkan sementara pajak federal atas bensin agar bisa menurunkan harga bahan bakar yang mengalami lonjakan saat ini dan mengurangi tekanan bagi para konsumen.

“Bahkan trader minyak mengakui bahwa harga minyak tinggi juga harga bensin yang tinggi akan menyebabkan ancaman bagi dua upaya dari langkah agresif Fed (AS) yang mendorong suku bunga lebih tinggi dan pemerintahan Biden semakin kreatif di bidang politik dan fiskal untuk menjinakkan tekanan inflasi energi,” Managing Partner SPI Asset Management Stephen Innes menyatakan kepada Reuters.

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Harga Emas Turun Rabu Jelang Testimoni Ketua Fed Powell

Tujuh perusahaan minyak akan bertemu Biden, kini ada di bawah tekanan dari Gedung Putih untuk menurunkan harga bahan bakar.

Namun, Chief Executive Officer perusahaan energi Chevron Michael Wirth mengatakan pada hari Selasa bahwa mengkritik industri minyak bukanlah cara untuk menurunkan harga bahan bakar.

“Tindakan ini tidak bermanfaat untuk memenuhi tantangan yang kita hadapi,”

Sementara, karena sanksi minyak Eropa terhadap Rusia atas invasinya ke Ukraina belum berlaku, pasokan masih akan semakin terbatas.

“Pasar masih berdamai dengan meningkatnya gangguan terhadap minyak Rusia. Sanksi Eropa belum berlaku". 

 

 

Equityworld Futures

Selasa, 21 Juni 2022

PT Equityworld Futures : Minyak Kian Melonjak Selasa, Masalah Kurangnya Pasokan Jadi Perhatian

Equityworld Futures - Minyak naik di Asia di tengah meningkatnya kekhawatiran atas keterbatasan pasokan.

Harga minyak Brent kian naik 0,97% di $115,24 per barel dan harga minyak WTI melonjak 1,99% ke $110,14 per barel menurut data Investing.com.

Investor khawatir mengenai ketatnya pasokan akibat Barat memberlakukan sanksi terhadap minyak Rusia. Pertanyaan juga tetap muncul tentang bagaimana produksi Rusia mungkin jatuh karena sanksi atas peralatan yang dibutuhkan untuk produksi, kata para analis.

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Harga Emas Naik Dolar Melemah, Prospek Moneter Tetap Tak Pasti

"Pasar tetap berhati-hati terhadap gangguan minyak Rusia karena sanksi Eropa mulai berlaku,

Pasar tengah meninjau ketegangan antara kekhawatiran pasokan dan ketidakpastian atas pertumbuhan global dalam menghadapi inflasi dan kenaikan suku bunga, kata para analis. China juga kembali menghadapi wabah COVID-19 di kota-kota termasuk Shenzhen, yang menambah kekhawatiran atas permintaan minyak yang lebih lemah.

"Ini adalah ketegangan yang akan kita lihat berlangsung selama sisa tahun ini," Ekonom Senior Westpac Justin Smirk.

“Ada ketakutan akan resesi, tapi kita tidak di sana. Kita masih menjalani pemulihan,”

Investor sekarang menunggu data pasokan minyak mentah AS dari American Petroleum Institute, yang akan dirilis hari ini.

 

 

 Equityworld Futures

Senin, 20 Juni 2022

PT Equityworld Futures : Outlook dan Tinjauan Harga Logam Mulia & Energi: 20 Juni - 24 Juni

Equityworld Futures - Spekulasi daripada fakta: Inilah alasan pergerakan harga yang berlebihan di pasar mana pun, utamanya komoditas. Bagaimana jika 25% dari harga minyak saat ini terdiri dari spekulasi oleh trader terbesar di Wall Street tetapi tidak diatur secara memadai? Bagaimana jika spekulasi itu ditutup? Akankah minyak per barel dari $110 menjadi $80? Membuat penasaran? Baca terus.

Ketika trader komoditas terjebak dalam pergolakan kegelisahan resesi AS mengirim satu barel minyak turun lebih dari $10 untuk minggu lalu, sebuah laporan investigasi oleh TYT Network yang muncul di salon.com mengatakan segelintir anggota Kongres Demokrat AS telah mengalihkan perhatiannya juga ke celah perdagangan misterius yang mungkin membantu mendorong harga bahan bakar dan makanan di luar pembenaran.

Celah itu, yang disebut Footnote 563 di bawah pedoman aturan perdagangan Komisi Perdagangan Berjangka Komoditi, atau CFTC, telah ditandai pemerintahan Biden oleh Perwakilan Demokrat California Ro Khanna, yang menginginkannya ditutup.

Menurut ahli materi aturan CFTC yang diwawancarai oleh TYT, Footnote 563 prinsipnya memungkinkan perusahaan keuangan terbesar di Wall Street untuk membanjiri penetapan harga yang sehat dengan volume swap besar berbasis komoditas - yang pada dasarnya berspekulasi pada harga komoditas.

Di pasar yang sehat, pembeli dan penjual menetapkan harga dengan mencari jalan tengah di antara mereka. Satu pihak menginginkan harga rendah, pihak lain menginginkan harga tinggi. Masalahnya adalah pembeli dan penjual minyak dan komoditas lainnya kalah jumlah sekitar 10 banding satu oleh trader Wall Street, tidak ada yang memiliki insentif pembeli asli untuk menjaga harga tetap rendah, karena hanya sedikit dari mereka yang benar-benar membelinya; mereka kebanyakan berspekulasi.

Karena jumlah trader yang dideregulasi secara dramatis melebihi jumlah mereka, pembeli dan penjual asli hampir tidak relevan sekarang dalam hal menetapkan harga, kata Michael Greenberger, mantan direktur perdagangan dan pasar di CFTC. Footnote 563 adalah apa yang menyebabkan Ukraina dan masalah pasokan lainnya menciptakan dampak besar yang tidak proporsional pada harga, Greenberger mengatakan secara virtual yang diselenggarakan baru-baru ini oleh Americans for Financial Reform.

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Harga Emas Naik, Dolar AS Bergerak Melemah

Yang pasti, sanksi tidak hanya pada Rusia tetapi juga Iran dan Venezuela, serta perselisihan sipil di Libya, semuanya menekan pasokan minyak mentah dunia saat permintaan kembali ke level tertinggi sebelum pandemi. Masalahnya adalah bank dan trader Wall Street memperkuat lonjakan harga dari situasi minyak yang ketat ini di mana pasar berjangka berfungsi akan melindungi mereka.

Masalahnya bukanlah keserakahan perusahaan, seperti yang disebut oleh Presiden AS Joe Biden dan Demokrat. Atau, setidaknya, bukan keserakahan perusahaan yang mereka pikirkan.

Di pasar yang sehat, mengeksploitasi harga akan mengilhami pembiayaan murah yang kompetitif, terutama dengan bensin berada di rekor tertinggi di atas $5 per galon. Teorinya, trader grosir bensin yang oportunistik dapat mencoba menjaring pelanggan baru dengan menurunkan harga pesaingnya yang mengeksploitasi harga. Tetapi bahkan jika beberapa trader grosir melakukan tersebut, itu tidak akan menggerakkan harga pasar, karena penjualan bensin sangat rendah dibandingkan dengan spekulasi Wall Street.

Seperti yang dikatakan Greenberger dalam pidatonya minggu lalu, perusahaan minyak kemungkinan mendapat keuntungan dari lonjakan harga, tetapi mereka bukan penggerak utama.

Dan Greenberger memiliki lebih dari sedikit pengalaman dengan masalah ini. Ia memainkan peran serupa di masa lalu ketika gas mencapai $4 per galon, merujuk kelemahan peraturan yang disebut "celah Enron" yang membuat Wall Street berspekulasi terhadap energi. Pada tahun 2008, kedua calon presiden, John McCain dan Barack Obama berjanji untuk menutup celah Enron. Kemudian, krisis keuangan meletus dan minyak naik di $147 per barel pada Juli 2008 menjadi di bawah $33 pada Januari 2009. Bank-bank Wall Street dengan sendirinya menutup meja perdagangan komoditas dan peraturan keuangan yang kaku melakukan sisanya.

Meskipun demikian, pada Februari 2011, Arab Spring dan perang Libya yang mendahului jatuhnya Muammar Gaddafi membawa minyak kembali ke $100 per barel. Harga tetap di antara level itu dan $90 hingga akhir 2014. Namun bank-bank Wall Street tidak memperdagangkan komoditas seperti sebelumnya. Dan harga bensin jarang melampaui $3,50 per galon. Jadi, inflasi bukanlah masalah; pada kenyataannya, Federal Reserve berharap bahwa akan bisa mencapai target inflasi 2% per tahun dan memotong suku bunga di bawah siklus pelonggaran kuantitatif yang berlangsung dari 2008 hingga 2014. Bahkan petinggi hawkish fiskal berpengaruh saat itu mungkin telah berjuang untuk membayangkan kondisi saat ini. inflasi 8% per tahun.

Kemudian sesuatu yang lain terjadi: Harga minyak jatuh dari tahun 2014 dan tidak akan kembali ke $100 setidaknya selama tujuh tahun.

Meskipun pasar relatif tenang saat itu, Greenberger mengatakan CFTC di bawah Obama menemukan Footnote 563 sebagai potensi bahaya baru setelah celah Enron. Ia mengatakan Asosiasi Swap dan Derivatif Internasional mengukir celah untuk diri mereka sendiri ketika CFTC menerjemahkan Undang-Undang Reformasi Dodd-Frank Wall Street era krisis keuangan ke dalam aturan dan peraturan.

CFTC menemukan celah tersebut pada Oktober 2016. Pada saat itu, bank-bank terbesar di Wall Street dapat menghindari regulasi hampir semua swap mereka dengan mengeksekusinya melalui afiliasi yang mereka klaim berada di luar negeri dan diklaim tidak didukung oleh perusahaan induknya. Tak satu pun dari klaim itu benar, dan dalam beberapa kasus afiliasi itu sendiri nyaris tidak ada di luar selembar kertas, kata Greenberg.

Ia mengatakan CFTC memulai proses mencoba menutup celah sebelum krisis keuangan berikutnya meletus. Tapi ada masalah lain. Kemenangan Donald Trump pada pemilihan umum November 2016 dan kebijakan deregulasi presiden Republik tersebut membunuh semua kemajuan dalam penutupan Footnote 563. Celah itu dimanfaatkan oleh bank-bank Wall Street sebelum harga negatif bersejarah minyak saat krisis Covid-19 pecah. Footnote 563 juga mempercepat produksi minyak dari $77 per barel pada bulan Desember menjadi $130 pada bulan Maret, terlepas dari situasi Ukraina, kata Greenberger.

Mantan pejabat CFTC itu mengatakan badan tersebut masih bisa mengambil tindakan cepat untuk memperbaiki celah tersebut. Faktanya, kata Greenberg, pemerintahan Biden tidak perlu melakukan lebih dari sekadar mengucapkan beberapa patah kata di depan umum untuk mempengaruhi dampak dramatis pada harga gas dan lainnya. "Jika mereka hanya [mengatakan], 'Hei, ini sedang terjadi, ini buruk, kita akan melihatnya,' saya pikir harga minyak akan turun setidaknya 10% setelah pengakuan itu, mungkin 25%."

Itu karena hanya prospek perhatian peraturan yang bisa menakuti bank dan perusahaan keuangan besar lainnya yang berspekulasi pada harga gas. (Greenberger mengutip Goldman Sachs, Citigroup, Bank of America dan JPMorgan Chase; ekuitas swasta juga ada dalam permainan.)

Solusi jangka pendek Greenberger adalah agar pemerintah menangani masalah tersebut secara publik. Perbaikan jangka panjang adalah mengatur ulang swap tersebut.

Minyak: Penutupan dan Aktivitas Pasar

Harga minyak mentah jatuh sebanyak 9% pada minggu lalu kala pasar minyak mengalami penurunan terbesar sejak April di tengah meningkatnya kekhawatiran resesi di Amerika Serikat imbas kenaikan suku bunga agresif oleh Federal Reserve untuk mengekang inflasi pada level tertinggi 40 tahun.

West Texas Intermediate yang diperdagangkan di New York, patokan untuk minyak mentah AS, turun $7.11, atau 6%, di $110,48 per barel. Untuk minggu lalu, WTI turun hampir 9%, untuk mencatatkan kerugian mingguan pertama sejak April.

Minyak Brent yang diperdagangkan di London, patokan minyak global, turun $6,2, atau 5,1%, menjadi $113,61. Untuk minggu lalu, Brent anjlok lebih dari 7% untuk mengalami penurunan mingguan pertama juga dalam dua bulan.

WTI melonjak awal pekan lalu ke level puncak tiga bulan di $123,18, tertinggi sejak kenaikan Maret menjadi hampir $130 setelah dimulainya konflik Rusia-Ukraina. Brent mencapai $125,16, setelah puncak Maret, yang merupakan titik tertinggi dalam 14 tahun.

Analis teknikal telah memperingatkan selama berminggu-minggu bahwa harga WTI dan Brent sangat overbought karena kedua patokan minyak mentah masing-masing naik sekitar $20 selama delapan minggu terakhir. Perdagangan minyak tampaknya memperhatikan peringatan serius pada hari Jumat setelah produksi pabrik AS turun untuk bulan kelima berturut-turut, kala perusahaan berjuang dengan masalah kemacetan rantai pasokan dan biaya tinggi, meskipun produksi industri itu sendiri meningkat.

Kepala divisi Federal Reserve untuk Minneapolis, Neel Kashkari, sementara itu mengingatkan bahwa bank sentral mungkin perlu lebih agresif dengan suku bunga jika inflasi AS tidak turun dari level tertinggi empat dekade.

Itu adalah tanda bahwa kenaikan suku bunga 75 bps bulan Juni - yang terbesar dalam 28 tahun - dapat diikuti oleh kenaikan yang lebih besar, meskipun Ketua Fed Jerome Powell memberikan jaminan awal pekan lalu bahwa tidak akan ada lagi kenaikan besar-besaran tahun ini dan penurunan suku bunga sebenarnya bisa terjadi pada awal 2024.

Ekonomi AS telah menunjukkan pertumbuhan negatif sebesar 1,4% untuk kuartal I. Jika tidak kembali ke positif pada kuartal II, Amerika Serikat secara teknis akan berada dalam resesi, mengingat hanya dibutuhkan dua kuartal berturut-turut pertumbuhan negatif untuk membuatnya disebut resesi.

“Resesi semakin mungkin terjadi karena bank sentral berlomba untuk menaikkan suku bunga sebelum inflasi lepas kendali,” Craig Erlam, analis di platform perdagangan online OANDA, mengatakan ketika Bank Sentral Eropa (ECB) mengindikasikan tiga kenaikan suku bunga besar juga untuk tahun 2022 lebih baik daripada alternatifnya; stagflasi.”

Sementara dunia, khususnya Amerika Serikat, belum berada dalam lingkungan stagflasi, di mana harga terus naik sementara ekonomi terus jatuh, istilah tersebut telah “terlalu banyak dilontarkan dalam beberapa bulan terakhir, yang mungkin menyoroti kegelisahan di sekitarnya,”

"Risiko salah satunya meningkat, itulah sebabnya bank sentral semakin menerima tindakan mereka yang mendorong ekonomi ke dalam resesi,"

Saat invasi Ukraina dan sanksi Barat berikutnya terhadap eksportir energi utama Rusia telah memperburuk ketatnya pasokan minyak mentah global, reli minyak tahun ini telah melampaui keterjangkauan banyak negara konsumen miskin, kata para analis.

Di Amerika Serikat, ukuran terbaik beban publik dari reli adalah harga pompa bensin, atau bensin, yang melebihi $5 per galon untuk pertama kalinya bulan ini. Banyak stasiun BBM AS, terutama di negara bagian Pantai Barat seperti California, menjual hampir $6 per galon, kata American Automobile Association. Diesel bahkan lebih tinggi di California, di atas $7 per galon.

"Ini gila, apa yang telah dilakukan para bull,"

“Saya tahu kita mengalami defisit global dalam minyak tetapi serius, berapa banyak lagi yang Anda ingin konsumen bayar?” sergah Kilduff. “Ada batas untuk hype ketatnya pasokan. Saya cukup yakin bahwa kita akan mendengar teriakan 'oversold' dari sisi lain setelah ini dan kita bisa melompat beberapa dolar atau lebih setelah akhir pekan. Tapi ini adalah pengingat yang baik bahwa masih ada beberapa isi kepala yang waras di pasar yang memeriksa semua data ekonomi makro yang masuk, dan bereaksi sesuai dengan itu.”

Di antara "sisi lain" itu adalah Kepala Analis Komoditas Goldman Sachs Jeff Currie, yang telah menonjol di Wall Street terkait minyak dalam menyerukan harga minyak mentah yang lebih tinggi sebelum kehancuran permintaan nyata dapat terjadi.

Beberapa kenaikan minyak juga tetap tidak terganggu oleh aksi jual.

"Kecuali jika ekonomi mengalami kehancuran total, penurunan harga itu seharusnya menjadi peluang untuk menempatkan posisi bullish jangka panjang," analis di Price Futures Group Chicago, yang menunjukkan bahwa permintaan minyak selama sebagian besar resesi tidak turun lebih dari 2%.

Minyak: Prospek Harga

Pergerakan harga di minggu lalu telah mengonfirmasi pola DOJI bearish di WTI yang terbentuk pada minggu sebelumnya.

Ia mengatakan uji support $100 untuk minyak mentah AS tidak dapat diabaikan.

"Kami melihat penurunan drastis $15 di WTI dari $123,66 menjadi $108,25," menambahkan bahwa pembacaan stokastik 54/65 pada grafik mingguan dan 30/8 pada grafik harian memperkuat potensi volatilitas minyak mentah AS dan suasana bearish.

Penutupan di bawah Exponential Moving Average 50 Hari di $109,83 adalah tanda bearish lainnya.

Di sisi lain, ia mengatakan WTI dapat menunjukkan pembalikan kembali dari Bollinger Band tengah mingguan di $106 dan berbalik kembali ke level $113 - $116 - $119.

“Jika itu terjadi, penjual dapat mengaktifkan kembali putaran pukulan lain untuk pergerakan lebih rendah berikutnya, yang menargetkan Simple Moving Average 200 Hari di $101,”

Emas: Penutupan Pasar dan Prospek Harga

Emas berjangka bulan depan untuk Agustus di Comex New York ditutup turun $8,00, atau 0,4%, di $1,841,90.

Untuk minggu lalu, kontrak berjangka emas patokan turun 1,9%.

Dixit mencatat bahwa aksi harga selama seminggu dalam emas melihat logam kuning melewati melalui channel ascending rectangular naik $75 yang terbentuk setelah level tertinggi April Comex di $1.998 ketika logam tidak dapat menembus $2.000.

“Channel naik seperti itu sering cenderung bearish dengan potensi penurunan lagi jika support ditembus dengan pasti,”

Dixit juga mencatat bahwa aksi harga mingguan mengindikasikan kelanjutan bearish dari penutupan logam di bawah Exponential Moving Average 50 Hari di $1.851 dan Simple Moving Average 100 Hari di $1.845.

"Lebih jauh ke minggu ini, emas kemungkinan akan mulai di zona netral $1.830-$1.850 sebelum menemukan langkah selanjutnya,"

"Pergerakan berkelanjutan di atas $1.830-$1.840 akan memiliki potensi rebound jangka pendek ke $1.850-$1.860, yang harus diselesaikan untuk resistance berikutnya di $1.878."

Tetapi penolakan dari $1.850-$1.860 dapat mendorong emas menuju pengujian ulang dari $1.830-$1.820 yang dapat berlanjut ke channel support di $1.805, kata Dixit.

"Setiap penembusan yang menentukan di $1.878 atau $1.805 akan membuka pergerakan $30-$75 lebih lanjut ke arah penembusan, baik lurus atau bertahap, tergantung pada pemicunya."

 

 

Equityworld Futures

Rabu, 15 Juni 2022

PT Equityworld Futures : Minyak Naik ke $121 per Barel, Ada Potensi Kenaikan Suku Bunga AS yang Agresif

Equityworld Futures - Minyak naik pada di Asia di tengah kekhawatiran prospek ekonomi yang tidak pasti menjelang keputusan kenaikan suku bunga AS yang berpotensi agresif.

Harga minyak Brent naik 0,14% ke $121,34 per barel dan harga minyak WTI naik 0,15% menjadi $119,11.

Data pasokan minyak mentah AS hari Selasa dari American Petroleum Institute menunjukkan peningkatan sebanyak 0,736 juta barel untuk pekan terakhir 10 Juni.

Data inflasi tinggi pada Jumat lalu telah meningkatkan ekspektasi pasar atas kenaikan suku bunga sebesar 75 basis poin, terbesar dalam 28 tahun.

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Harga Emas Naik Ditopang Pelemahan Imbal Treasury AS Sebelum Keputusan Fed

"Sinyal hawkish yang agresif dari Fed (AS) dapat meningkatkan kekhawatiran resesi global, yang dapat mengurangi permintaan pasar energi,"

“Jika Fed mengumumkan kenaikan 75 basis poin malam ini, harga minyak mungkin sangat lemah terhadap dolar dalam jangka pendek karena Fed yang hawkish dapat mendorong investor untuk berallih ke dolar safe haven dan menekan aset sensitif risiko seperti minyak.”

Wabah COVID-19 baru di Beijing dan pembatasan berikutnya menambah kekhawatiran terhadap permintaan minyak negara terbesar kedua itu.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan mitranya (OPEC+) tetap mempertahankan perkiraannya bahwa permintaan minyak dunia akan melebihi tingkat pra-pandemi pada tahun 2022 dalam laporan bulanannya.

Investor sekarang menunggu data pasokan minyak mentah dari Badan Informasi Energi AS, terbit pada sesi hari ini nanti.

 

 

Equityworld Futures

Selasa, 14 Juni 2022

PT Equityworld Futures : Minyak Turun Meski Pasokan di Pasar Berkurang karena Turunnya Ekspor Libya

Equityworld Futures - Harga minyak turun di Asia meski pasokan yang lebih ketat akibat penurunan ekspor minyak Libya. Dimulainya kembali pembatasan COVID-19 China seperti pembatasan sebagian wilayah di Shanghai juga menambah khawatir bahwa hal itu kemungkinan bisa mengurangi permintaan minyak.

Harga minyak Brent turun 0,16% menjadi $122,07 per barel dan harga minyak WTI juga turun 0,13% ke $120,77 per barel.

“Pembicaraan dalam kompleksitas minyak masih berputar pada penurunan produksi Libya, China terus memberlakukan langkah-langkah untuk memperlambat penyebaran COVID, dan kekhawatiran seputar resesi global yang mendorong kehancuran permintaan,” 

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Harga Emas Bergerak, XAUUSD Berpeluang Naik Resistance di 1.833

Ekspor Libya turun di tengah krisis politik yang telah memukul produksi dan pelabuhannya yang menimbulkan ekhawatiran ketatnya pasokan. Produsen lain di Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) kesulitan untuk memenuhi misi produksi mereka sementara Rusia menghadapi larangan minyak karena perang di Ukraina.

Menteri Perminyakan Libya Mohamed Aoun mengatakan produksi negara itu telah turun menjadi 100.000 barel per hari dari 1,2 juta barel per hari tahun lalu, menurut Reuters.

Menambah kekhawatiran di sisi permintaan, Beijing telah meningkatkan kekhawatiran dengan pembatasan baru karena adanya kluster wabah.

Investor sekarang menunggu data pasokan minyak mentah AS dari American Petroleum Institute, yang akan dirilis hari ini.

 

 

 Equityworld Futures

Senin, 13 Juni 2022

PT Equityworld Futures : Kekhawatiran Inflasi Tinggi Pacu Harga Emas

Equityworld Futures - Harga emas (XAU/USD) melonjak seiring dengan tingginya permintaan aset aman setelah rilis data inflasi AS yang tertinggi sejak 1981. Riset Monex Investindo Futures memaparkan harga emas mampu bertahan di level tinggi pada perdagangan karena saham-saham di Wall Street mengalami penurunan dalam tiga minggu setelah data terbaru dari inflasi AS menunjukkan tertinggi selama 41 tahun yang menunjukkan Federal Reserve bisa menjadi lebih agresif dengan kenaikan suku bunga.

"Emas menjadi lindung nilai terhadap inflasi dan biasanya reli ketika investor menjadi khawatir tentang penurunan daya beli. Namun bukanlah korelasi yang sempurna karena emas juga telah turun beberapa kali tahun ini ketika data inflasi lebih tinggi,"

Selanjutnya dalam risetnya harga emas berpeluang dibeli untuk menguji level resistance USD 1.885 selama harga tidak mampu menebus level support USD 1.871. Namun, penurunan lebih rendah dari level support tersebut berpeluang memicu aksi jual terhadap harga emas menguji level support selanjutnya USD 1.865. Rentang perdagangan potensial di sesi Asia USD1.865 - USD 1.885.

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Emas Turun, Dolar AS Naik Lagi Imbas Ekspektasi Kebijakan Agresif Fed

Selain itu teori lindung nilai, emas dan dolar juga telah rally secara bersama pada pekan lalu karena kekhawatiran inflasi menopang harga emas sementara greenback naik karena ekspektasi kenaikan suku bunga Fed.

Indeks Harga Konsumen AS tumbuh sebesar 8,6% selama tahun ini hingga Mei, berkembang dengan tingkat tercepat sejak 1981, karena biaya hampir semuanya mulai dari makanan hingga bahan bakar, tempat tinggal, dan pakaian naik lagi bulan lalu, menurut Departemen Tenaga Kerja AS.

Sementara itu harga emas batangan 24 karat PT Aneka Tambang Tbk (Aneka Tambang Persero Tbk (JK:ANTM)) mengalami kenaikan mencapai Rp996.000. Berdasarkan informasi dari Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia Antam, harga emas ini naik Rp1.000 dari Rp995 ribu per gram pada perdagangan hari sebelumnya.

Sejalan, harga pembelian kembali (buyback) juga ikut naik Rp2.000 dari sebelumnya Rp876 ribu per gram menjadi Rp 878 ribu per gram pada hari ini.

Berdasarkan data Antam, harga jual emas berukuran 0,5 gram senilai Rp 548 ribu, 2 gram Rp1,932 juta, 3 gram Rp 2,873 juta, 5 gram Rp 4,755 juta, 10 gram Rp9,455 juta, 25 gram Rp 23,512 juta, dan 50 gram Rp 46,945 juta.

Kemudian, harga emas seberat 100 gram senilai Rp93,812 juta, 250 gram Rp234,265 juta, 500 gram Rp468,320 juta, dan 1 kilogram Rp936,600 juta. 



Equityworld Futures

Jumat, 10 Juni 2022

PT Equityworld Futures : Harga Minyak Turun, Pembatasan Baru COVID di Shanghai Jadi Fokus

Equityworld Futures - Harga minyak turun di Asia saat kekhawatiran atas tindakan penguncian COVID-19 baru di Shanghai berkembang meskipun permintaan bahan bakar di AS kuat.

Harga minyak Brent turun 0,71% ke $122,20 per barel dan harga minyak WTI turun 0,65% di $120,73 per barel. Namun, Brent akan mencatat kenaikan empat minggu berturut-turut dan WTI ditetapkan untuk mengalami kenaikan mingguan ketujuh beruntun.

Shanghai memberlakukan pembatasan baru sebagian setelah pusat ekonomi terbesar China itu melaporkan kluster wabah COVID-19, yang menambah kegelisahan pasar atas penurunan permintaan bahan bakar global.

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Harga Emas Turun Yield Treasury Menguat Jelang Rilis Inflasi AS

“Pembatasan pandemi baru di Shanghai menimbulkan kekhawatiran terhadap permintaan di China,” Kepala Analis Fujitomi Securities Co. Ltd. Kazuhiko Saito memaparkan.

"Tetapi kerugian dibatasi oleh ekspektasi bahwa pasokan global yang ketat akan berlanjut dengan permintaan bahan bakar AS yang solid dan lambatnya peningkatan dalam produksi minyak mentah oleh OPEC+,"

Sementara itu, permintaan bahan bakar yang kuat di AS selama puncak musim mengemudi saat musim panas juga membatasi penurunan harga minyak mentah.

Di sisi pasokan, Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan mitranya (OPEC+) pekan lalu sepakat untuk mempercepat produksi guna menahan gejolak harga yang tinggi. Tetapi ada sedikit ruang bagi produsen untuk meningkatkan produksi.

 

 

Equityworld Futures

Kamis, 09 Juni 2022

PT Equityworld Futures : Harga Gas Alam Eropa & Inggris Meroket 34%, Kebakaran Terminal LNG AS Ancam Pasokan

Equityworld Futures - Harga gas alam di Inggris dan Eropa meroket tinggi pada awal perdagangan Eropa petang, setelah terjadi kebakaran di terminal ekspor LNG di Texas mengancam akan memutus saluran pasokan vital selama berbulan-bulan.

Kontrak gas alam berjangka Inggris di ICE untuk bulan Juli berada di 174,18 pence per Thermal, melonjak naik sekitar 34%, sementara harga yang sama untuk wilayah Eropa barat laut, kontrak TTF Belanda, melesat naik sekitar 12% menjadi 89,12 euro per megawatt-jam.

Kebakaran terjadi pada hari Rabu di fasilitas Freeport LNG di Pulau Quintana dekat Houston, Texas. Kebakaran tersebut dengan cepat dapat dipadamkan dan tidak ada korban jiwa atau pun cedera, tetapi Bloomberg mengutip juru bicara perusahaan pada hari Rabu mengatakan bahwa pengiriman dari terminal dapat terganggu selama tiga bulan.

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Harga Emas Turun Tipis, Penguatan Imbal Obligasi Masih Tekan Permintaan

Ketersediaan gas alam cair AS telah menjadi elemen penting dari pasokan gas Eropa dalam tiga bulan terakhir, pasalnya pembeli di Eropa telah berebut mencari alternatif sumber gas pipa Rusia setelah invasi ke Ukraina. Perusahaan gas Rusia, Gazprom (MCX:GAZP) telah memutus pasokan ke sejumlah negara 'tidak bersahabat' yang telah menolak untuk membayar gas mereka dalam mata uang rubel setelah Kremlin secara sepihak menulis ulang ketentuan kontraknya.

Harga gas di Inggris bereaksi lebih ekstrem terhadap berita tersebut akibat ketergantungannya yang lebih besar pada impor LNG, dan dampak besar yang dirasakan. Negara akan meminta untuk mengirim lebih banyak karena peran penting negara itu dalam mengirim senjata ke Ukraina sejak awal konflik. .

Kebakaran berefek sebaliknya pada harga gas di AS karena penangguhan ekspor akan menjebak gas di pasar Amerika Utara selama terminal tidak digunakan. Kontrak berjangka di Henry Hub AS melanjutkan kerugiannya dan diperdagangkan di $8,26 per mmBtu, sekitar 15% lebih rendah dari level sesaat sebelum muncul berita.

 

 

 Equityworld Futures

Rabu, 08 Juni 2022

PT Equityworld Futures : Minyak Kian Naik Tembus $120, Investor Tinjau Prospek Permintaan

Equityworld Futures - Harga minyak naik di Asia, didukung oleh kondisi pasokan ketat dan pulihnya permintaan bahan bakar pasalnya China terus mengurangi pembatasan COVID-19 di kota-kota besar.

Harga minyak Brent naik tipis 0,12% di $120,73 per barel dan harga minyak WTI naik 0,23% ke $119,70 per barel menurut data Investing.com.

Data pasokan minyak mentah AS hari Selasa dari American Petroleum Institute menunjukkan peningkatan sebanyak 1,845 juta barel untuk pekan terakhir 3 Juni.

Pasokan minyak mentah dan produk minyak global tetap ketat karena Barat memberlakukan sanksi terhadap ekspor minyak dari negara produsen utama Rusia. Sebagian besar kilang secara global berada pada tahap yang mendekati kapasitas maksimumnya untuk memenuhi peningkatan permintaan dari pemulihan pandemi dan mengganti pasokan Rusia yang hilang.

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Harga Emas Turun Jelang Pengumuman Data Inflasi AS

“Kecuali jika kapasitas baru Timur Tengah aktif lebih cepat dari yang kami harapkan atau China memutuskan untuk menaikkan batas ekspor produknya, kekurangan produk bersih hanya akan bertambah buruk lantaran permintaan untuk bahan bakar transportasi meningkat selama musim panas di belahan bumi utara,”

Kota-kota di China seperti Beijing dan Shanghai melonggarkan pembatasan COVID-19 dan mengizinkan lebih banyak mobilitas, yang menambah ekspektasi bahwa permintaan bahan bakar kemungkinan pulih.

"Minyak tetap didukung dengan baik pada penurunan saat ini,"

“Dengan dibukanya kembali China, harga yang lebih tinggi tetap ada di jalur menuju resistennya,”

Investor sekarang menunggu data pasokan minyak mentah dari Badan Informasi Energi AS, terbit nanti sesi hari ini.

 

 

 Equityworld Futures

Selasa, 07 Juni 2022

PT Equityworld Futures : Harga Minyak Naik Hari Ini, Ada Harapan Pulihnya Permintaan di China

Equityworld Futures - Minyak naik di Asia saat ada ekspektasi pemulihan permintaan di China dan keraguan soal target produksi yang lebih tinggi dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan mitranya (OPEC+).

Harga minyak Brent berjangka naik 0,62% di $120,25 per barel. Harga minyak WTI berjangka naik 0,71% ke $119,34 per barel, benchmark ini mencapai level tertinggi tiga bulan di $120,99 pada hari Senin.

Pelonggaran pembatasan perjalanan di China kemungkinan akan meningkatkan permintaan minyak dalam beberapa minggu mendatang.

Beijing dan pusat komersial Shanghai mengurangi pembatasan COVID-19 dan mengizinkan lebih banyak mobilitas. Beijing telah membuka kembali restoran dan bioskop di sebagian besar wilayah.

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Harga Emas Naik Sedikit, Peluang Kenaikan Suku Bunga Lanjutan Bertambah

Negara pengekspor minyak utama Arab Saudi menaikkan harga jual resmi Juli ke Asia sebesar $2,10 dari Juni untuk minyak mentah andalannya, Arab Light, tak jauh dari level puncak sepanjang masa yang tercatat pada Mei.

OPEC+ minggu lalu memutuskan untuk meningkatkan produksi untuk Juli dan Agustus sebanyak 648.000 barel per hari, atau 50% lebih besar dari yang direncanakan sebelumnya. Namun, tidak semua anggota dapat meningkatkan produksi, termasuk Rusia, yang menghadapi sanksi Barat.

“Saat peningkatan target bulanan baru terus didorong oleh kontribusi proporsional dari semua peserta (termasuk Rusia), tidak realistis untuk mengharapkan peningkatan mendekati angka utama,”

Investor sekarang menunggu data pasokan minyak mentah AS dari American Petroleum Institute, yang akan dirilis hari ini.

 

 

 Equityworld Futures

Senin, 06 Juni 2022

PT Equityworld Futures : Minyak Naik Setelah Arab Saudi Tingkatkan Harga Jual Minyak Mentah

Equityworld Futures - Harga minyak naik di Asia setelah Arab Saudi menaikkan harga secara tajam untuk penjualan minyak mentahnya di bulan Juli. Ini menjadi tanda bahwa pasokan tetap ketat meskipun OPEC+ setuju untuk mempercepat peningkatan produksinya selama dua bulan ke depan.

Harga minyak Brent naik 0,62% di $120,46 per barel dan harga minyak WTI naik 0,67% ke $119,42 per barel.

Arab Saudi menaikkan harga jual resmi (OSP) untuk minyak mentah andalannya, Arab Light, ke Asia menjadi $6,50 premium terhadap rata-rata benchmark Oman dan Dubai, naik dari premium harga $4,40 pada bulan Juni, perusahaan minyak negara Aramco (TADAWUL:2222) mengumumkan pada hari Minggu.

Keputusan itu tiba meskipun ada seruan pekan lalu oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan mitranya, bersama-sama disebut OPEC+, untuk meningkatkan produksi pada Juli dan Agustus sebesar 648.000 barel per hari, atau 50% lebih banyak dari yang direncanakan sebelumnya.

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Harga Emas Naik Meski Pekerjaan AS Beri Sinyal Kenaikan Suku Bunga Lanjutan

"Hanya beberapa hari setelah membuka keran sedikit lebih lebar, Arab Saudi membuang sedikit waktu untuk menaikkan harga jual resminya untuk Asia, pasar utamanya...melihat dampaknya pada pembukaan aset berjangka di seluruh spektrum pasar minyak,"

Arab Saudi juga meningkatkan harga Arab Light OSP ke barat laut Eropa menjadi $4,30 di atas ICE (NYSE:ICE) Brent untuk bulan Juli, naik dari premium harga $2,10 di bulan Juni. Tapi tetap mempertahankan harga premium stabil untuk barel minyak menuju Amerika Serikat di $5,65 di atas Argus Sour Crude Index (ASCI).

Keputusan OPEC+ atas kenaikan produksi tersebut dianggap tidak mungkin memenuhi permintaan karena beberapa negara anggota, termasuk Rusia, tidak dapat meningkatkan produksi. Sementara itu, permintaan mengalami lonjakan di Amerika Serikat di tengah puncak musim mengemudi dan China melonggarkan lockdown COVID.

"Saat peningkatan tersebut sangat dibutuhkan, itu jauh dari ekspektasi pertumbuhan permintaan, terutama dengan larangan parsial Uni Eropa terhadap impor minyak Rusia juga diperhitungkan."

 

 

 Equityworld Futures

Jumat, 03 Juni 2022

PT Equityworld Futures : Harga Minyak Turun Usai Keputusan OPEC+ Tingkatkan Produksi

Equityworld Futures - Harga minyak turun setelah pasar menyorot keputusan OPEC+ untuk meningkatkan produksi dan mempertanyakan apakah produksi tambahan dapat menebus hilangnya pasokan dari Rusia serta memenuhi meningkatnya permintaan China di tengah pelonggaran pembatasan COVID.

Seperti dilansir Reuters, keputusan pada hari Kamis oleh Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan mitranya, bersama-sama disebut OPEC+, untuk meningkatkan produksi sebesar 648.000 barel per hari (bph) pada bulan Juli dan Agustus, berbeda dari 432.000 bph seperti yang disepakati sebelumnya, dianggap tidak cukup untuk pasar yang ketat.

Harga minyak WTI turun 0,65% di $116,11 per barel, sementara harga minyak Brent turun 0,58% di $116,95 per barel.

Kenaikan produksi dibagi secara proporsional di seluruh negara anggota. Tetapi Rusia yang masuk dalam pakta dan anggota seperti Angola dan Nigeria sudah gagal memenuhi targetnya dan analis mengatakan peningkatan pasokan kemungkinan akan kurang dari volume yang diumumkan.

"Fakta bahwa Rusia tetap berada dalam kelompok menunjukkan bahwa produksi dari aliansi akan terus kesulitan untuk memenuhi bahkan peningkatan kecil dalam kenaikan kuota ini,"

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Emas lebih rendah pada masa dagang Asia

Produksi Rusia telah turun 1 juta barel per hari sejak invasinya ke Ukraina, yang disebut Moskow sebagai "operasi militer khusus", dan kemungkinan akan turun lebih jauh ketika larangan Uni Eropa terhadap minyak Rusia dimulai.

"Dengan kata lain, trader berpikir peningkatan tambahan ini terlalu kecil dibandingkan dengan meningkatnya risiko pasokan turun dari embargo UE di tengah perkiraan peningkatan permintaan dari China," Managing Partner SPI Asset Management Stephen Innes menyatakan.

Seiring turunnya kasus COVID-19 tiap hari, pusat keuangan China Shanghai dan ibu kota, Beijing, telah melonggarkan pembatasan COVID-19 minggu ini. Pemerintah pusat China menjanjikan dukungan luas untuk merangsang ekonomi negara itu, yang diperkirakan menargetkan sektor-sektor dengan intensitas bahan bakar tinggi seperti infrastruktur dan konstruksi properti.

Namun, analis mengingatkan adanya risiko penurunan permintaan dan harga minyak, karena Beijing tidak mengubah pendiriannya terhadap aturan COVID-19.

"Pembukaan kembali China dari lockdown Covid adalah hal positif untuk permintaan saat ini tetapi negara itu mempertahankan kebijakan Nol-Covid sehingga penguncian cepat dapat dengan cepat mengikis dampak ini,"

Data pemerintah pada hari Kamis menunjukkan stok minyak mentah AS turun jauh lebih besar dari estimasi dalam seminggu hingga 27 Mei dan persediaan bensin turun, berbeda dari ekspektasi untuk peningkatan.

 

 

Equityworld Futures

Kamis, 02 Juni 2022

PT Equityworld Futures : Harga Minyak Jatuh Nyaris 2%, Investor Tunggu Rapat OPEC+ Bahas Produksi

Equityworld Futures - Harga minyak turun di Asia, turun sekitar $3 per barel di awal perdagangan Asia. Investor mengambil untung dari reli baru-baru ini sebelum pertemuan antara Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan mitranya hari ini yang akan membuka jalan bagi peningkatan produksi yang diharapkan.

Harga minyak Brent jatuh 1,69% menjadi $114,33 per barel setelah naik 0,6% selama sesi sebelumnya. Harga minyak WTI anjlok 1,87% ke $113,10 per barel, setelah naik 0,5% pada hari Rabu. Baik Brent dan WTI berjangka telah berada dalam tren kenaikan selama beberapa minggu, pasalnya sanksi Uni Eropa dan AS terhadap Rusia atas invasinya ke Ukraina pada 24 Februari menekan ekspor Rusia.

Pelonggaran China dari beberapa penguncian COVID-19 telah menambah dukungan harga, tetapi penguatan dolar AS membatasi kenaikan cairan hitam itu.

"Investor mengambil keuntungan menjelang pertemuan OPEC+ dan dolar yang lebih tinggi," Kepala Analis Fujitomi Securities Co Ltd Kazuhiko Saito mengatakan kepada Reuters.

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Harga Emas Turun Ditopang Pelemahan Yield AS, tapi Dapat Tekanan dari Kenaikan Dolar

"Kami mengharapkan tidak ada kejutan dari OPEC+ karena kelompok itu kemungkinan tidak mengubah kebijakannya ketika Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengunjungi Arab Saudi," 

Saito juga memperkirakan pasar akan mendapatkan kembali kekuatannya setelah pertemuan itu seiring terus berlanjutnya pengetatan pasokan global dan permintaan bahan bakar di AS dan Eropa tetap kuat.

OPEC+ diperkirakan akan mempertahankan kenaikan produksi minyak bulanannya, lima sumber OPEC+ mengatakan pada hari Rabu. Komite teknis OPEC+ memangkas perkiraannya untuk surplus pasar minyak 2022 sekitar 500.000 barel per hari menjadi 1,4 juta barel per hari, menurut dua sumber OPEC+.

Beberapa anggota OPEC juga mempertimbangkan apakah akan menangguhkan Rusia dari kesepakatan untuk memungkinkan produsen lain memompa lebih banyak minyak mentah sesuai keinginan AS dan negara-negara Eropa, menurut Wall Street Journal. Namun, dua sumber OPEC+ mengatakan kepada Reuters bahwa topik tersebut tidak dibahas selama pertemuan teknis hari Rabu, dan enam delegasi OPEC+ lainnya mengatakan gagasan itu tidak dibahas oleh kelompok tersebut.

Sementara itu, pasokan minyak mentah AS dari American Petroleum Institute menunjukkan penurunan sebanyak 1,181 juta barel untuk pekan terakhir 26 Mei. Perkiraan yang disiapkan oleh Investing.com telah memperkirakan penurunan sebesar 67.000 barel, sementara peningkatan 567.000 barel tercatat selama minggu lalu.

Investor sekarang menunggu angka pasokan minyak mentah dari Badan Informasi Energi AS, yang akan dirilis hari ini.

 

 

Equityworld Futures