Jumat, 29 Oktober 2021

PT Equityworld Futures : Harga Minyak Bervariasi, Alami Penurunan Mingguan Pertama sejak Agustus

Equityworld Futures - Harga minyak bervariasi tetapi bersiap untuk mengalami kerugian mingguan pertama dalam setidaknya delapan minggu. Persediaan minyak AS meningkat lebih besar dari yang diharapkan, sementara Iran mengisyaratkan bahwa pihaknya akan melanjutkan perundingan dengan kekuatan negara Barat yang dapat mendorong diakhirinya sanksi.

Harga minyak Brent naik tipis 0,08% di $83,73 per barel dan harga minyak WTI turun tipis 0,10% di $82,73 per barel. Baik Brent dan WTI berjangka berada di jalur untuk penurunan lebih 1% untuk minggu ini, penurunan mingguan pertama dalam 10 minggu untuk WTI, dan yang pertama kali dalam delapan minggu untuk Brent.

Minyak mengakhiri reli dua bulan terakhir yang didorong oleh kenaikan harga batu bara di Eropa dan China serta pasokan minyak yang ketat. Data pasokan minyak mentah dari Badan Informasi Energi AS hari Rabu menunjukkan peningkatan sebanyak 4,267 juta barel.

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Harga Emas Terus Turun, Dolar AS Menuju Penurunan Mingguan Ketiga

Investor sekarang menunggu pertemuan berikutnya dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan mitra, atau OPEC+, yang akan berlangsung pada 4 November. Kelompok ini diperkirakan akan mempertahankan rencana untuk menambah pasokan 400.000 barel per hari setiap bulan hingga April 2022 tidak berubah.

Namun, "Arab Saudi [anggota OPEC+] telah mengingatkan bahwa, dengan gambaran permintaan yang tidak jelas, kemungkinan ada 'peningkatan besar' stok minyak global pada 2022,"

Permintaan bahan bakar yang tidak menentu di beberapa negara tetap menjadi perhatian, di mana China, negara importir minyak utama dunia, berusaha untuk mengendalikan tingkat polusi menjelang Olimpiade Musim Dingin Beijing, yang akan dibuka pada Februari 2022. Wilayah tertentu dari negara itu juga telah membatasi mobilitas untuk mengekang penyebaran terbaru wabah COVID-19.

 

 

 Equityworld Futures

Kamis, 28 Oktober 2021

PT Equityworld Futures : Dolar AS Menguat Tipis, Keputusan ECB Selanjutnya Jadi Fokus Bank Sentral

Equityworld Futures - Dolar AS masih bergerak naik di awal perdagangan sesi Eropa, dengan keputusan kebijakan oleh para gubernur bank sentral di Australia, Jepang dan Eropa akan menyentak perdagangan hari ini.

Indeks Dolar AS, yang melacak greenback terhadap sejumlah mata uang lainnya, diperdagangkan menguat tipis 0,08% di 93,870 menurut data Investing.com. Pergerakan terlihat terbatas menjelang pertemuan penetapan kebijakan minggu depan oleh Federal Reserve.

USD/JPY turun tipis 0,08% di 113,71 setelah Bank of Japan mempertahankan suku bunga dan rencana pembelian aset tidak berubah pada hari Kamis. Bank sentral ini juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun fiskal ini dan juga mengurangi perkiraan inflasi menjadi nol untuk tahun yang berakhir pada Maret 2022 dari 0,6%, menunjukkan bank sentral lain akan tertinggal dalam mengendalikan kebijakan moneter yang akomodatif.

Sebelumnya, Bank sentral Australia memutuskan untuk tidak membeli obligasi pemerintah pusat untuk program stimulusnya meskipun imbal hasil jauh di atas target 0,1%. Ini memicu ekspektasi pasar bahwa Reserve Bank of Australia akan menaikkan suku bunga acuan 0,1% lebih cepat dari proyeksi sebelumnya pada tahun 2024, bahkan mungkin pada pertengahan 2022.

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Harga Emas Berjangka Naik Tipis

AUD/USD naik tipis 0,06% ke 0,7519, masih mendekati level tertinggi tiga bulan. Rupiah masih bergerak turun 0,16% di 14.192,0 per dolar AS.

Selain itu, USD/CAD naik 0,11% ke 1,2370 setelah Bank of Canada mengakhiri stimulus pembelian obligasi pada hari Rabu. Ini mengindikasikan bahwa bank tersebut dapat menaikkan suku bunga segera setelah April 2022 lantaran berusaha untuk mengatasi tingkat inflasi yang tinggi.

EUR/USD turun tipis 0,04% di 1,1599, tepat di atas level terendah 15 bulan di 1,1523 yang disentuh awal bulan ini menjelang keputusan kebijakan Bank Sentral Eropa.

ECB diperkirakan akan menggunakan pertemuan Desember untuk mengumumkan keputusan penting tentang kebijakan stimulus daruratnya, tetapi kenaikan kuat dalam tekanan inflasi telah mengangkat ekspektasi kenaikan suku bunga.

“Tampaknya masih agak tidak masuk akal bahwa ECB akan mengubah suku bunga acuannya pada awal tahun depan,” sebut analis Nordea, dalam catatan, “dan [Presiden ECB Christine] Lagarde kemungkinan akan berusaha untuk menurunkan harga pasar saat ini. ”

Sementara, GBP/USD naik tipis 0,08% ke 1,3757 sehari setelah Menteri Keuangan Inggris Raya Rishi Sunak menyampaikan anggaran tahunan dan berkomitmen untuk peningkatan pengeluaran jangka nyata di belakang perkiraan yang ditingkatkan untuk pertumbuhan ekonomi dan pendapatan pajak.

 

 

 Equityworld Futures

Rabu, 27 Oktober 2021

PT Equityworld Futures : Harga Minyak Turun Usai Terjadi Kenaikan Persediaan di AS

Equityworld Futures  – Harga minyak turun menyusul kenaikan stok minyak mentah dan tingkat persediaan bahan bakar yang lebih besar dari perkiraan di AS.

Harga minyak Brent turun 0,67% ke $84,08 per barel dan harga minyak WTI Futures turun 0,67% di $84,08 per barel.

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Harga Emas Turun, Tingkat Kepercayaan Konsumen AS Meningkat

Data American Petroleum Institute menunjukkan persediaan minyak mentah naik 2,3 juta barel dalam pekan yang terakhir 22 Oktober, melampaui kenaikan 1,9 juta barel yang diantisipasi. Persediaan bensin juga naik 500.000 barel dan stok sulingan meningkat 1 juta barel, saat angka keduanya diperkirakan turun.

Dengan Brent naik delapan minggu terakhir dan WTI naik selama 10 minggu terakhir, analis merasa harga mulai terlihat overbought.

"Kecuali berita utama bullish, yang mungkin mengingat apa yang kita lihat kemarin, kita bisa melihat beberapa aksi ambil untung di Brent dan WTI yang akan sehat untuk pasar,"

 

 

Equityworld Futures

Selasa, 26 Oktober 2021

PT Equityworld Futures : Minyak Beranjak Turun di Tengah Tren Kenaikan Harga

Equityworld Futures - Harga minyak turun setelah minggu ini dimulai dengan minyak mentah AS mencapai level tertinggi tujuh tahun, menunjukkan bahwa pasokan global tetap ketat bahkan ketika permintaan bahan bakar meningkat.

Harga minyak Brent turun 0,09% di $85,09 per barel dan harga minyak WTI turun 0,18% di $83,61 per barel.

Awal musim dingin di utara membuat banyak orang mengantisipasi kenaikan permintaan, meskipun intervensi pemerintah telah membuat pasar listrik dan batu bara di China tetap terkendali sejauh ini.

"Prakiraan cuaca untuk November yang lebih dingin membuat trader energi bersiap untuk menghadapi pasar yang sangat ketat yang akan dipenuhi (dengan) permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya di musim dingin ini,"

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Harga Emas Turun, Dolar AS Lanjut Menguat Tipis

"Pasar minyak ini akan tetap ketat dan itu berarti satu atau dua berita utama dari minyak $90," tambahnya.

Goldman Sachs (NYSE:GS) mengantisipasi bahwa Brent kemungkinan akan melampaui perkiraan akhir tahun sebesar $90 per barel, karena peralihan dari gas ke minyak dapat menambah 1 juta barel per hari (bph) untuk permintaan minyak.

Setelah lebih dari satu tahun penurunan permintaan di AS, konsumsi bensin dan sulingan kembali sejalan dengan tingkat rata-rata lima tahun.

Tingkat persediaan AS diperkirakan akan naik minggu ini. Stok minyak mentah diperkirakan naik 1,7 juta barel pekan lalu, menurut jajak pendapat analis Reuters. Namun persediaan bensin dan sulingan diperkirakan akan turun.

 

  

Equityworld Futures

Senin, 25 Oktober 2021

PT Equityworld Futures : Harga Emas Naik, Fed Segera Memulai Penurunan Aset

Equityworld Futures - Harga emas naik, kembali meraih keuntungan setelah mengalami kerugian sesi sebelumnya. Pandangan kepala Federal Reserve AS Jerome Powell bahwa inflasi dapat turun pada tahun 2022 dan bank sentral berada di jalur untuk segera memulai pengurangan aset telah berkontribusi pada tren penurunan sebelumnya.

Harga emas berjangka naik tipis 0,145 di $1.798,85/oz. Dolar AS, yang biasanya bergerak terbalik dengan emas, turun tipis 0,02% ke 0,02% di 93,608 pada hari Senin. Namun, greenback stabil usai menjalani kerugian mingguan terbesar dalam lebih dari sebulan, sehingga memberikan tekanan lebih lanjut pada logam kuning.

Emas telah reli ke level tertingginya sejak awal September 2021 pada hari Jumat, sebelum melepaskan beberapa keuntungan imbas komentar Powell tentang pengurangan aset. Inflasi dapat bertahan lebih lama, dan The Fed dapat segera memulai pengurangan aset tetapi tetap bersabar terhadap kenaikan suku bunga lantaran lapangan kerja masih rendah, katanya dalam panel diskusi.

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Harga Minyak Terus Naik Dipicu Ketatnya Pasokan Global

Namun, Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengatakan pada hari Minggu bahwa AS tidak kehilangan kendali atas inflasi, yang dapat kembali normal pada paruh kedua tahun 2022.

Investor juga menunggu keputusan kebijakan dari Bank of Japan dan European Central Bank (ECB), keduanya diumumkan pada hari Kamis. Meskipun tidak ada bank sentral yang diharapkan mengubah kebijakan, indikator pasar mengisyaratkan kenaikan inflasi yang lebih tinggi daripada proyeksi ECB.

Spekulan memotong posisi beli bersih mereka untuk emas selama seminggu hingga 19 Oktober, menurut data dari data Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas (CFTC0 AS yang dirilis pada hari Jumat.

Dalam logam mulia lainnya, perak naik 0,26% di 24,512. Platinum naik 0,15% ke 1.045,90 dan palladium naik 0,67% ke 2.031,50.

 

 

 Equityworld Futures

- Melihat kemampuan dan bisnis PT Pelita Air Service (PAS) yang digadang-gadang menggantikan peran PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA). Pelita Air Service merupakan maskapai penerbangan milik PT Pertamina (Persero) akan menggantikan bisnis penerbangan berjadwal Garuda. Kabar ini dibenarkan Kementerian BUMN selaku pemegang saham mayoritas. Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo mencatat, pengalihan bisnis Garuda kepada PAS itu dilakukan jika Garuda dipailitkan. Upaya kepailitan ditempuh jika negosiasi dan restrukturisasi utang Garuda senilai Rp70 triliun tak berjalan baik. "Kita tetap mengupayakan restrukturisasi Garuda sebagai upaya utama. Pelita (kami) jadikan cadangan," ujar Kartika kepada MNC Portal Indonesia, Senin (25/10/2021). Baca Juga: Karyawan Garuda Tolak Digantikan dengan Pelita Air Dikutip di laman website resmi, PAS merupakan perusahaan aviasi nasional yang memiliki basis udara (air base) di Bandar Udara Internasional Halim Perdanakusuma dan memiliki Bandar Udara Pondok Cabe (Tangerang Selatan). Awalnya, ketika dua perusahaan minyak negara, Pertamina dan Permina, digabung menjadi PT Pertamina, kebutuhan untuk membentuk layanan udara khusus menjadi prioritas utama untuk mendukung kebutuhan perusahaan. Sebab, kebutuhan tercatat semakin meningkat terhadap eksplorasi, eksploitasi, serta transportasi migas hingga kargo. Sejak tahun 1963, sebagai akibat dari kebutuhan operasional yang meningkat itu, departemen layanan udara didirikan Pertamina yang disebut Pertamina Air Service (PAS). 7 tahun kemudian (1970), Pertamina mendirikan PT Pelita Air Service (PAS). Pendirian itu sekaligus menutup pintu divisi on air Pertamina melalui pembentukan anak perusahaan otonom untuk menyediakan operasi penerbangan berkelanjutan. "Mendefinisikan perusahaan sebagai maskapai penerbangan komersial, PAS diberi misi melakukan operasi penerbangan dalam arti luas di dunia, untuk melayani dan mengkoordinasikan operasi penerbangan secara ekonomis dalam industri minyak dan gas di Indonesia melalui penerbangan charter dan kegiatan terkait," tulis keterangan manajemen.

Artikel ini telah tayang di https://economy.okezone.com/
dengan judul "Disebut Bakal Gantikan Garuda Indonesia, Intip Kekuatan Pelita Air : Okezone Economy",
Klik untuk baca: https://economy.okezone.com/read/2021/10/25/320/2491285/disebut-bakal-gantikan-garuda-indonesia-intip-kekuatan-pelita-air.

Download aplikasi Okezone Portal Berita Online Indonesia , Lengkap Cepat Beritanya:
Android: https://play.google.com/store/apps/details?id=linktone.okezone.android
iOS: https://apps.apple.com/us/app/okezone-com-news/id624468351

Jumat, 22 Oktober 2021

PT Equityworld Futures : Gas alam lebih rendah selama masa dagang Eropa

Equityworld Futures - Pada New York Mercantile Exchange, Futures gas alam untuk penyerahan November diperdagangkan pada USD5,192 per mmBTU pada waktu penulisan, menurun 1,51%.

Instrumen ini sebelumnya diperdagangkan sesi rendah USD per mmBTU. Gas alam kemungkinan akan mendapat support pada USD4,825 dan resistance pada USD5,370.

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Emas lebih tinggi pada masa dagang Asia

Indeks Dolar AS Berjangka yang memantau kinerja greenback versus keranjang enam mata uang utama lainnya, jatuh 0,16% dan diperdagangkan pada USD93,608.

Sementara itu di Nymex, Minyak metah untuk penyerahan Desember naik 0,34% dan diperdagangkan pada USD82,78 per barrel sedangkan Heating oil untuk penyerahan November naik 0,19% dan diperdagangkan pada USD2,5540 per galon. 

 

 

Equityworld Futures

Kamis, 21 Oktober 2021

PT Equityworld Futures : Harga Minyak Turun di Tengah Meningkatnya Permintaan AS dan Krisis Energi Global

Equityworld Futures - Harga minyak turun. Namun, permintaan yang kuat di AS dan peralihan ke bahan bakar minyak dari batu bara dan gas di tengah situasi kekurangan batu bara dan gas global membantu membatasi kerugian untuk cairan hitam tersebut.

Harga minyak Brent turun 0,48% di $85,41 per barel, sementara harga minyak WTI futures turun 0,26% ke $83,20 per barrel.

"Kami melihat beberapa koreksi untuk Brent berjangka, tetapi sentimen keseluruhan tetap bullish karena tidak ada peningkatan besar produksi oleh AS atau Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC),"

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Harga Emas Naik Selama Tiga Hari Beruntun

"Brent bisa mencapai $90 per barel akhir tahun ini lantaran ketatnya pasar minyak global kemungkinan akan berlanjut seiring upaya dekarbonisasi AS akan membatasi peningkatan produksi sementara permintaan akan meningkat karena lebih banyak perusahaan listrik beralih bahan bakar dari batu bara dan gas,"

Pengetatan pasokan berarti kenaikan harga, dengan OPEC tetap berpegang pada rencana untuk meningkatkan pasokan dengan lambat. Penyulingan minyak meningkatkan produksi untuk memenuhi peningkatan permintaan di seluruh Asia, Eropa, dan AS, tetapi pemeliharaan pabrik dan harga gas alam yang tinggi kemungkinan akan membatasi pasokan pada kuartal IV tahun 2021.

Sementara itu, data minyak mentah dari Badan Informasi Energi AS (EIA) hari Rabu menunjukkan peningkatan 431.000 barel dalam seminggu hingga 15 Oktober. Perkiraan yang disiapkan oleh Investing.com memperkirakan peningkatan 1,857 juta barel, sementara 6,088 juta barel peningkatan dilaporkan selama minggu sebelumnya.

Data minyak mentah dari American Petroleum Institute, yang dirilis sehari sebelumnya, menunjukkan peningkatan sebesar 3,294 juta barel.

 

 

 Equityworld Futures

Selasa, 19 Oktober 2021

PT Equityworld Futures : Harga Minyak Kembali Naik Setelah Mencapai Level Tertinggi

Equityworld Futures - Harga minyak melanjutkan kenaikan level tertinggi lainnya setelah memulai pekan ini di level tertingginya dalam beberapa tahun.

Harga minyak Brent kembali naik 0,23% di $84,52 per barel sementara harga minyak WTI naik 0,31% di $81,94 per barel.

Baik Brent dan WTI berjangka naik setidaknya 3% minggu lalu.

Saat musim dingin mendekati belahan bumi utara, harga minyak, batu bara dan gas kemungkinan akan tetap tinggi, menurut analis.

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Harga Emas Terus Naik Imbas Pelemahan Dolar dan Yield Obligasi AS

"Musim dingin berpotensi mendorong harga energi lebih tinggi lagi," sebut analis komoditas Citi Research dalam catatan, setelah meningkatkan perkiraan untuk minyak Brent selama sisa tahun 2021 menjadi $85 per barel dari $74 per barel.

Di China, perkiraan suhu telah turun mendekati titik beku di wilayah utara, kata AccuWeather.com.

Tetapi kenaikan produksi minyak AS dapat membatasi harga. Kenaikan lebih lanjut dalam produksi pada formasi serpih terbesar di AS diharapkan bulan depan, menurut laporan resmi.

Pertumbuhan ekonomi China yang melambat juga dapat berdampak pada harga. PDB China tumbuh sebesar 0,2% kuartal ke kuartal dan 4,9% tahun ke tahun pada kuartal III tahun 2021.

 

 

 Equityworld Futures

Senin, 18 Oktober 2021

PT Equityworld Futures : Krisis Energi di Eropa hingga China Bakal Picu Inflasi

Equityworld Futures - Krisis energi yang dialami oleh beberapa negara seperti Uni Eropa, China, Amerika Serikat, India, akan menimbulkan dampak inflasi. Menurutnya, kenaikan harga komoditas energi di pasar Internasional akan berpengaruh terhadap biaya produksi yang ada didalam negeri. Naiknya biaya produksi akan memicu harga barang jadi ikut naik.

"Efek krisis energi di Eropa, India dan China akan menyeret ekonomi Indonesia dalam masalah inflasi yang serius. Kenaikan harga komoditas energi di pasar internasional diperkirakan berdampak terhadap naiknya biaya produksi didalam negeri,"

Sebagai analogi, Direktur Celios itu mencontohkan seperti pada halnya produksi pupuk untuk menunjang produktivitas pertanian. Jika harga pupuk yang salah satu bahan bakunya gas buminya naik, maka akan ada peningkatan harga bahan pokok di level petani. 

"Ambil contoh, industri pupuk yang bahan baku-nya gas bumi mengalami tekanan biaya produksi dan berisiko meningkatkan harga pupuk di level petani, Jika harga pupuk naik, tidak bisa dihindari harga pangan akan disesuaikan dan pada akhirnya konsumen yang menanggung mahalnya harga energi," 

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Harga Emas Turun Seiring Menguatnya Dolar AS

Hal tersebut menurut Bhima sama halnya dengan sensitivitas naiknya harga minyak mentah terhadap biaya transportasi didalam negeri. Dirinya menjelaskan, saat ini Indonesia masih menjadi importir minyak dengan kenaikan impor migas sebanyak 59,5% secata year-on-year per September 2022.

"Setiap kenaikan harga minyak mentah yang terlalu cepat akan memperbesar kemungkinan naiknya inflasi administered price atau inflasi karena harga yang diatur pemerintah seperti harga BBM, tarif listrik dan LPG,"

Menilik dari hal tersebut, lantas Bhima memperkirakan pada tahun 2022 inflasi Indonesia mencapai 4,5% yang disebabkan oleh krisis energi yang saat ini berlanjut, dan mulai menjalar ke beberapa negara, seperti Jepang.

"Proyeksi inflasi di tahun 2022 diperkirakan mencapai 4,5% karena adanya krisis energi yang berlanjut, Inflasi yang terlalu tinggi akan menimbulkan kontraksi pada pemulihan daya beli kelas menengah ke bawah,"

 

 

Equityworld Futures

Jumat, 15 Oktober 2021

PT Equityworld Futures : Indonesia Eksportir Sawit Terbesar di Dunia

Equityworld Futures - Indonesia menjadi negara eksportir terbesar minyak kelapa sawit di dunia. Mengutip data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), total produksi minyak sawit tahun 2020 sekitar 47 juta ton. Dari total produksi tersebut, sebanyak 34 juta ton terserap di pasar ekspor.

"Saat ini memang sebagian besar penyerapan produk sawit terjadi di pasar internasional,"

Tofan mengatakan, pemerintah sebetulnya sudah melakukan berbagai strategi agar keseimbangan antara daya serap di pasar ekspor dan pasar domestik menjadi lebih seimbang. Hal itu sudah dilaksanakan melalui program mandatori biodiesel yang sudah mencapai bauran 30%. 

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Emas lebih rendah pada masa dagang Asia

"Dari data yang ada, penyerapan minyak sawit di pasar domestik untuk konsumsi biodiesel mencapai 42% dari total konsumsi di pasar domestik. Jadi kita backbone-nya memang masih di pasar ekspor, tetapi kita juga meningkatkan daya serap di pasar domestik," 

Berdasarkan data Gapki, ekspor sawit Indonesia cenderung mengalami peningkatan. "Secara year-to-date (ytd), sampai Agustus 2020, ekspor minyak sawit Indonesia mencapai 21,31 juta ton. Sementara ytd Agustus 2021, ekspor minyak sawit sebesar 22,79 juta ton. Jadi kalau lihat data dibandingkan tahun lalu, tren ekspor masih akan terus meningkat,"

Dia menuturkan, hingga saat ini, Indonesia masih fokus sebagai produsen sawit terbesar di dunia. "Di tahun 2021, diproyeksikan produksi sawit Indonesia akan tembus 50 juta ton."

 

 

 Equityworld Futures

Kamis, 14 Oktober 2021

PT Equityworld Futures : Viral Pria Bak Toko Perhiasan Berjalan hingga Beli Topi Emas, Ini Penampakannya

Equityworld Futures - Video seorang pria pergi ke toko emas viral di media sosial.

Unggahan yang diberi caption “Sultan beli emas” itu diunggah oleh akun Facebook Info Kediri Raya. Video itu telah mendapatkan ribuan suka, komentar, dan bagikan dari warganet. 

Tidak diketahui secara pasti identitas asli pria tersebut. Dia tampak berhenti di depan sebuah toko emas. Sambil membawa tas kecil, dia turun dari mobil sedannya yang berwarna emas.

Pada kesempatan itu, dia mengenakan kaos berwarna hitam dan celana jeans. Dia juga menggunakan pernak-pernik seperti kalung, gelang, dan cincin emas berukuran besar. 

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Emas lebih rendah pada masa dagang Asia

Setibanya di dalam toko, dia langsung berjalan ke arah etalase. Seolah sudah membuat janji, pramuniaga toko tersebut meminta pria tersebut untuk duduk terlebih dahulu. Saat itu pula, terungkap bahwa tas kecil yang dia bawa berisi beberapa gepok uang yang kemudian dia tumpuk. 

Setelah beberapa saat, diketahui bahwa pria ini hendak membeli topi yang terbuat dari emas. Raut wajahnya terlihat gembira. Dia melihat-lihat sebentar keadaan topi itu baru kemudian memakainya di kepalanya.

“Wow,” begitu tanggapannya saat topi tersebut telah terpasang di kepalanya.

Waktu terjadinya peristiwa ini pun tidak jelas diketahui. Namun, melihat suasana sekitar toko yang ramai dan tidak ada yang menggunakan masker, ada kemungkinan hal ini terjadi sebelum pandemi Covid-19. 

 

 

 Equityworld Futures

Rabu, 13 Oktober 2021

PT Equityworld Futures : Siap-Siap! Presiden Jokowi Akan Hentikan Ekspor Minyak Sawit Mentah

Equityworld Futures - Presiden Joko Widodo akan menghentikan ekspor minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) agar komoditas tersebut dapat diolah menjadi produk turunan bernilai tambah.

“Di suatu titik nanti, setop yang namanya ekspor CPO. Harus jadi kosmetik, harus jadi mentega, harus jadi biodiesel, dan turunan lainnya,"

Dia mengatakan Indonesia harus memiliki keberanian untuk menghentikan ekspor bahan mentah, meskipun terdapat potensi gugatan hingga ke Organisasi Perdagangan Internasional (WTO). Indonesia harus bersiap menghadapi segala hambatan dalam proses hilirisasi sumber daya alam.

Bahkan Presiden meminta jajarannya untuk menyiapkan pengacara-pengacara internasional jika Indonesia digugat karena menghentikan ekspor bahan mentah.

“Jadi siapkan lawyer yang kelas-kelas internasional. Inilah yang dalam proses semuanya kita siapkan. Semuanya kita integrasikan apa yang kita cita-citakan,” 

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Harga Emas Naik Jelang Publikasi Notulen Rapat Fed dan Data Inflasi AS

Selain CPO, Presiden Jokowi juga berencana menghentikan ekspor bauksit mentah. Ia meminta bauksit hasil dalam negeri harus diolah menjadi alumina dan logam aluminium. Bauksit menjadi komoditas yang dilarang pemerintah untuk diekspor, setelah nikel.

Indonesia melarang ekspor bijih nikel mulai Januari 2020. Kebijakan itu sejalan dengan diterbitkannya Permen ESDM Nomor 11 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua Atas Permen ESDM Nomor 25 Tahun 2018 tentang Pengusahaan Pertambangan Mineral dan Batubara.

Presiden Jokowi mengatakan tak akan mundur untuk menghentikan ekspor bahan mentah dan mengupayakan hilirisasi di dalam negeri.

“Barang-barang kita, mau jadikan pabrik di sini, hak kita dong. Ya kita hadapi. Jangan digugat kita mundur, tidak akan kesempatan itu datang lagi, peluang itu datang lagi. Ini kesempatan kita mengintegrasikan industri-industri kita di dalam negeri,”

Berkaca pada beberapa tahun lalu, Indonesia sempat kehilangan kesempatan untuk mendulang manfaat nilai tambah perekonomian, saat dunia mengalami kenaikan harga dan permintaan (booming) minyak dan kayu.

“Dulu ada booming minyak, booming kayu kita kehilangan. (Kali) ini tidak. Minerba harus menjadi sebuah fondasi dalam rangka memajukan negara kita Indonesia.” 

 

 

 Equityworld Futures

Selasa, 12 Oktober 2021

PT Equityworld Futures : Harga Minyak Turun, Krisis Energi Global Mulai Berdampak

Equityworld Futures - Harga minyak turun di Asia untuk pertama kalinya dalam empat hari. Cairan hitam ini mengalami jeda setelah mencatatkan kenaikan selama berminggu-minggu yang dipicu oleh rebound permintaan global, dan kenaikan yang berkontribusi terhadap situasi kekurangan energi di ekonomi negara mulai dari Eropa hingga Asia, menurut beberapa investor.

Harga minyak Brent turun 0,01% di $82,65 per barel dan harga minyak WTI melemah 0,12% di $80,42 per barel. Baik Brent dan WTI berjangka tetap di atas angka $80.

"Masih ada banyak momentum di balik reli minyak dan fundamentalnya tetap sangat menguntungkan," analis pasar senior OANDA Craig Erlam mengatakan kepada Reuters.

“Apakah akan mengejutkan melihat minyak kembali tiga digit tahun ini? Mungkin tidak."

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Harga Emas Naik Tipis, Ekspektasi Kebijakan Tapering Fed Meningkat

Krisis energi global yang terus melanda Asia, Eropa, dan AS telah mendorong harga listrik ke titik rekor dalam beberapa pekan terakhir. Naiknya harga gas alam juga mendorong pembangkit listrik untuk menggantinya dengan minyak mentah. Peralihan tersebut dapat meningkatkan permintaan minyak mentah antara 250.000 hingga 750.000 barel per hari, menurut beberapa perkiraan.

Di China, negara pengimpor minyak utama, kawasan industri utamanya mengalami kekurangan listrik. Namun, batubara termal berjangka naik lagi pada hari Selasa dan harga naik lebih dari 10%. Qatar, negara produsen gas alam cair terbesar global, mengakui kepada pelanggannya pada hari Senin bahwa tidak akan dapat meningkatkan produksi dan menurunkan harga energi.

"Kami sudah maksimal, sejauh kami telah memberikan semua pelanggan kami jumlah yang seharusnya," Menteri Energi Qatar Saad al-Kaabi menegaskan kepada Reuters.

"Saya tidak senang dengan harga gas yang tinggi."

Investor sekarang menunggu data minyak mentah AS dari American Petroleum Institute, yang akan dirilis pada sesi hari ini.

 

 

Equityworld Futures

Senin, 11 Oktober 2021

PT Equityworld Futures : Harga Minyak Naik, Sinyal Peningkatan Permintaan BBM vs Pembatasan Pasokan OPEC+

Equityworld Futures - Harga minyak naik di sesi Asia, melanjutkan keuntungan multi minggunya. Pembatasan pasokan dari produsen utama bertabrakan dengan meningkatnya permintaan bahan bakar seiring ekonomi terus dibuka kembali dan pulih dari COVID-19.

Harga minyak Brent naik 1,44% di $83,58 per barel setelah naik hampir 4% minggu lalu. Harga minyak WTI melonjak 1,88% ke $80,84 per barel sempat mencapai tertinggi sejak akhir 2014. Minyak mentah AS naik 4,6% pada Jumat lalu.

Seiring lebih banyak populasi yang keluar dari tindakan pembatasan, termasuk Sydney Australia yang membuka kembali ekonominya dari lockdown selama 107 hari, permintaan bahan bakar telah meningkat dan mendorong harga naik. Brent berjangka telah naik selama lima minggu sementara WTI berjangka telah naik selama tujuh minggu.

Meskipun harga batu bara dan gas telah melonjak karena pemulihan ekonomi dari COVID-19 berlanjut, peningkatan persediaan minyak mentah di AS setelah penarikan baru-baru ini dapat berdampak pada cairan hitam.

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Harga Emas Turun di Tengah Ekspektasi Fed Mulai Pengurangan Aset Sesuai Jadwal

"Kami pikir harga minyak mentah akan kesulitan untuk naik jauh lebih tinggi pada kuartal ini dan masih memperkirakannya akan turun secara bertahap tahun depan,"

Persediaan minyak mentah AS naik untuk periode pelaporan kedua berturut-turut, menurut data dari American Petroleum Institute dan Badan Informasi Energi dirilis selama minggu lalu. Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan mitranya (OPEC+) juga memutuskan untuk mempertahankan peningkatan produksi yang stabil dan bertahap pada pertemuannya pekan lalu.

“Keputusan OPEC untuk menahan kenaikan output yang lebih besar dari yang dijadwalkan kemungkinan akan membuat pasar semakin ketat pada kuartal IV,” ahli strategi komoditas senior Australia & New Zealand Banking Group (OTC:ANZBY) Ltd. Daniel Hynes mengatakan kepada Bloomberg.

"Pasar tetap menawar dengan baik karena permintaan terus tumbuh."

 

 

 Equityworld Futures

Jumat, 08 Oktober 2021

PT Equityworld Futures : Selamat Tinggal Minyak Cs, Transisi Energi Beri Peluang Milenial Unjuk Gigi

Equityworld Futures - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengungkapkan bahwa adanya transisi energi telah membuka peluang berkarya dalam pengembangan sumber energi bersih serta mencegah perubahan iklim.

Di mana proses peralihan penggunaan energi dari energi fosil menuju energi baru dan terbarukan (EBT) akan memberikan berkah tersendiri bagi kaum milenial.

"Transisi energi ini memberikan peluang besar untuk berkarya. Jadi Generasi muda bisa menjadi key leader dalam kolaborasi multi-institusional," 

Menurut Arifin, peran generasi muda menjadi sangat krusial dalam arah pembangunan ekonomi nasional di masa mendatang. "Generasi muda adalah salah satu faktor utama untuk menentukan keberhasilan pembangunan ekonomi rendah karbon yang berkelanjutan,"

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Harga Emas Turun Tipis Jelang Laporan Terbaru Pekerjaan AS

Untuk itu diperlukan kesadaran dari generasi milenial mengenai proses transisi energi menuju energi bersih, kelestarian lingkungan, dan mitigasi dampak perubahan iklim yang telah menjadi komitmen Indonesia dalam Paris Agreement. "Kami mengharapkan generasi muda memberikan ide-ide dan inovasi baru dalam pengembangan EBT. Membantu mengampanyekan penggunaan energi bersih dan ikut memanfaatkan energi bersih secara konsisten,"

Arifin menyarankan beberapa hal yang bisa dilakukan oleh para milenial. Pertama, terlibat secara langsung dalam memberikan sumbangsih mengembangakan EBT. Kedua, melakukan sosialisasi pentingnya penggunaan energi bersih untuk mendukung ketahanan energi jangka panjang. 

Selanjutnya, menciptakan inovasi-inovasi di bidang EBT yang langsung bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. "Bisa biomassa dari limbah menjadi berkah atau memanfaatkan tanaman setempat untuk menjadi bahan bakar, seperti bioetanol,"

Langkah lain yang bisa dilakukan adalah memberikan pendampingan bagi masyarakat serta mengembangkan perusahaan rintisan (startup) khususnya aplikasi penghematan energi. "Generasi muda bisa menjadi key leader dalam kolaborasi multi-institusional,"

Pemerintah sendiri juga tengah melakukan dua terobosan kebijakan yang khusus diperuntukkan oleh para generasi muda demi mendukung program percepatan EBT, yaitu Gerakan Inisiatif Listrik Tenaga Surya dan Patriot Energi. "Ini bisa menjadi ujung tombak dimanfaatkannya EBT di daerah-daerah di seluruh Indonesia."

 

 

Equityworld Futures

Rabu, 06 Oktober 2021

PT Equityworld Futures : Harga Emas Naik Tipis, Data Pekerja AS Masih Jadi Perhatian Investor


Equityworld Futures - Harga emas menguat tipis pada akhir perdagangan, di tengah menurunnya imbal hasil obligasi pemerintah. Namun kenaikan emas dibatasi di tengah menguatnya dolar AS.

Sementara itu, para investor juga masih menanti rilis data pasar tenaga kerja AS yang akan disampaikan akhir pekan ini.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange naik USD0,9 atau 0,05% menjadi USD1.761,80 per ounce. Sehari sebelumnya, emas berjangka turun USd6,7 atau 0,38% menjadi USd1.760,90.

"Emas telah mengambil kursi belakang untuk aset aman lainnya, dan banyak bergantung pada data penggajian non-pertanian AS, dengan logam kemungkinan akan bergerak menyamping sampai saat itu," 

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Emas lebih rendah pada masa dagang Asia

Adapun imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun turun setelah mencapai level tertinggi lebih dari tiga bulan, tetapi tetap di atas 1,5%.

Sementara itu, dolar AS menguat membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, dan membatasi kenaikan lebih lanjut. 

Emas berada di bawah tekanan tambahan karena Automated Data Processing Inc. bahwa pekerjaan sektor swasta meningkat 568.000 pada September, lebih baik dari yang diharapkan.

Menyusul data yang menunjukkan kenaikan kuat dalam lapangan pekerjaan swasta AS pada September, fokus investor beralih ke data penggajian non-pertanian (NFP) utama AS yang diperkirakan akan menentukan rencana tapering Federal Reserve.

Di sisi lain, logam mulia seperti perak untuk pengiriman Desember turun 7,6 sen atau 0,34% menjadi USD22,532 per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari naik USD17,4 atau 1,81% menjadi ditutup pada USD977,2 per ounce.

 

 

 Equityworld Futures

Selasa, 05 Oktober 2021

PT Equityworld Futures : Harga Minyak Turun, Berlanjutnya Kekhawatiran Pasokan Batasi Kerugian

Equityworld Futures - Harga minyak turun di Asia. Namun, WTI berjangka berada di level tertinggi sejak 2014, pasalnya krisis energi global terus memperketat pasar minyak mentah, gas alam, dan batu bara.

Brent berjangka juga membatasi kerugian di tengah kekhawatiran atas pasokan yang ada, sementara investor cairan hitam juga mencerna keputusan dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan mitranya (OPEC+) untuk tetap dengan rencana peningkatan produksi.

Harga minyak Brent turun 0,23% ke $82,52 per barel dan harga minyak WTI turun tipis 0,09% di $78,86 per barel.

Keputusan kelompok ini, yang diumumkan pada hari Senin, mengatakan OPEC+ akan mematuhi pakta bulan Juli untuk meningkatkan produksi sebesar 400.000 barel per hari (bph) setiap bulan hingga setidaknya April 2022, tanpa meningkatkan angka tersebut.

"Minyak mentah memperpanjang kenaikan dengan investor khawatir mengenai ketatnya pasar karena krisis energi meningkatkan permintaan,"

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Harga Emas Turun, Dolar & Yield Obligasi AS Terus Menguat

"Kenaikan OPEC+ jauh di bawah ekspektasi pasar, mengingat krisis energi di seluruh dunia. Tidak mengherankan, ada spekulasi OPEC akan dipaksa untuk bergerak sebelum pertemuan yang dijadwalkan berikutnya jika permintaan terus melonjak,"

Komite teknis bersama OPEC pada bulan September mengatakan bahwa mereka memperkirakan defisit pasokan 1,1 juta barel per hari pada tahun 2021, yang dapat meningkat menjadi surplus 1,4 juta barel per hari pada tahun 2022.

Sementara itu, data pasokan minyak mentah AS menunjukkan tanda-tanda melambatnya permintaan bahan bakar di negara importir minyak global itu.

Data dari American Petroleum Institute (API), yang dirilis pada hari Selasa, menunjukkan peningkatan 951.000 barel untuk pekan terakhir 1 Oktober. Perkiraan yang disiapkan oleh Investing.com telah memperkirakan penurunan sebesar 300.000 barel, sementara peningkatan 4,127 juta barel tercatat selama minggu lalu.

Investor sekarang menunggu data pasokan minyak mentah dari Badan Informasi Energi AS, yang akan dirilis sesi hari ini.

 

 

Equityworld Futures

PT Equityworld Futures : Harga Minyak Dunia Naik Signifikan, Pasar Saham Asia Ambrol

Equityworld Futures - Pasar saham Asia mencatat kerugian luar biasa usai aksi jual yang ramai dilakukan di Wall Street terdampak kekhawatiran kenaikan harga minya ke angka tertinggi. Padahal saat ini masih terjadi  gangguan rantai pasokan hingga memberi tekanan pada aktivitas ekonomi.

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang melemah sebanyak 1,3 persen, jatuh untuk sesi ketiga berturut-turut. Saham Jepang anjlok 2,8 persen, Korea Selatan merosot 2,5 persen dan saham Australia terpangkas 1,0 persen.

"Investor jelas khawatir tentang inflasi karena gangguan rantai pasokan dan reli harga-harga energi,"

Penurunan pasar membawa indeks acuan utama MSCI menjadi 619,87 poin, yang merupakan poin terendah sejak November 2020.

Indeks telah merosot lebih dari 5,0 persen tahun ini, dengan pasar Hong Kong dan Jepang di antara yang mencatat kerugian terbesar.

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Harga Emas Turun Dolar AS Terus Naik, Kekhawatiran Inflasi Batasi Penurunan

"Kami telah melihat saham-saham teknologi mengungguli saham-saham yang dinilai berharga murah (value stocks) jadi jika inflasi tetap mengkhawatirkan, maka saham-saham teknologi cenderung terpukul,"

Sebelumnya, harga minyak juga sudah mencapai nilai tertinggi dalam tiga tahun setelah OPEC+ mengkonfirmasi akan tetap pada kebijakan produksinya saat ini karena permintaan untuk produk minyak rebound meski ditekan beberapa negara untuk menaikkan produksi yang lebih besar.

Minyak AS stabil di 77,60 dolar AS per barel, sehari setelah mencapai level tertinggi sejak 2014. Minyak mentah Brent berdiri di 81,30 dolar AS setelah naik ke level tertinggi tiga tahun.

Fokus pasar di Asia adalah apakah pengembang properti China Evergrande menawarkan kelonggaran kepada investor yang mencari tanda-tanda pelepasan aset. Saham perusahaan dihentikan untuk diperdagangkan.

Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,94 persen menjadi 34.002,92 poin, indeks S&P 500 kehilangan 1,30 persen menjadi 4.300,46 poin, dan Nasdaq anjlok 2,14 persen menjadi 14.255,49 poinkarena investor melepas saham Big Tech dalam menghadapi kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS naik dampak kehati-hatian investor tentang perlunya menaikkan plafon utang pemerintah saat Amerika Serikat menghadapi risiko gagal bayar bersejarah dalam dua minggu.

Pada akhir perdagangan di Wall Street, Senat AS bersiap untuk memberikan suara pada RUU yang disahkan di Dewan Perwakilan Rakyat yang akan memperpanjang batas utang AS hingga Desember 2022, menghilangkan satu kebuntuan di Kongres yang membuat investor gelisah.

Nilai dolar AS yang diperdagangkan mendekati level tertinggi satu tahun versus mata uang utama menjelang data penggajian penting AS yang akan dirilis pada akhir pekan, yang mungkin menawarkan petunjuk tentang waktu pengurangan stimulus Federal Reserve dan dimulainya kenaikan suku bunga.

Indeks dolar, yang melacak greenback versus sekeranjang enam mata uang, naik tipis 0,09 persen menjadi 93,928. Euro turun 0,13 persen menjadi 1,1605 dolar, sementara yen diperdagangkan naik 0,12 persen menjadi 111 per dolar.

Harga emas terkunci dalam kisaran ketat dan berdiri di 1.763 dolar AS per ounce, setelah naik ke level tertinggi sejak 23 September.

 

 

 Equityworld Futures

Senin, 04 Oktober 2021

PT Equityworld Futures : Harga Minyak Turun, Fokus Pertemuan Kebijakan Pasokan Terbaru OPEC+

Equityworld Futures - Harga minyak turun di Asia sebelum Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan negara mitranya (OPEC+) akan bertemu untuk membahas kebijakan pasokan yang dapat memutuskan apakah reli harga baru-baru ini adalah hal yang layak.

Harga minyak Brent turun 0,39% ke $78,97 per barel dan harga minyak WTI turun 0,43% ke $75,55 per barel. Brent berjangka mencapai level tertinggi hampir tiga tahun di atas $80 minggu lalu karena krisis energi global dan pulihnya permintaan bahan bakar memberi dorongan pada cairan hitam.

Dengan OPEC+ akan bertemu di kemudian hari, minat risiko telah "didorong oleh kepercayaan yang tumbuh dalam peningkatan kuat pertumbuhan global... karena investor fokus pada pertemuan OPEC+ mendatang",

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Harga Emas Naik Mendekati Puncak Dua Minggu, Dolar AS Melemah

Beberapa negara menekan kelompok untuk meningkatkan produksi dan menurunkan harga seiring terus pulihnya permintaan bahan bakar. OPEC+ pada Juli 2021 setuju untuk meningkatkan produksi sebesar 400.000 barel per hari setiap bulan hingga setidaknya April 2022, untuk menghapus 5,8 juta barel per hari dari pemotongan yang ada.

Produsen tengah mempertimbangkan untuk menambahkan lebih banyak pasokan daripada yang ditetapkan dalam kesepakatan OPEC+, sumber OPEC mengatakan kepada Reuters. Namun, kenaikan apa pun akan berlaku mulai November karena volume Oktober sudah diputuskan pada pertemuan OPEC+ terakhir di bulan September.

Melonjaknya harga gas, yang telah meningkat 300% dan diperdagangkan sekitar $200 per barel, membatasi sebagian kerugian minyak. Peningkatan ini juga menyebabkan pengguna beralih ke bahan bakar minyak dan produk mentah lainnya untuk menghasilkan listrik serta kebutuhan industri lainnya.

 

 

 Equityworld Futures

Jumat, 01 Oktober 2021

PT Equityworld Futures : Laba PGN (PGAS) Meroket 2.800%

Equityworld Futures - Laba bersih PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) atau PGN naik tajam pada kuartal II-2021. Pada laporan keuangan per 30 Juni 2021, laba PGN tercatat sebesar USD196,50 juta atau naik 2.823% dibanding 30 Juni 2020 sebesar USD6,72 juta.

Dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), PGN mencatatkan pendapatan sebesar USD1,464 miliar atau turun 0,31% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD1,469 triliun dengan laba per saham dasar USD0,0081.

Adapun pendapatan Perseroan terbagi jadi dua, yaitu pihak berelasi terdiri dari niaga gas, transmisi gas, penjualan minyak dan gas, pendapatan pemrosesan gas, dan transportasi minyak, serta pihak ketiga terdiri dari niaga gas, transmisi gas, penjualan minyak dan gas, sewa fiber optik, transportasi minyak, pemrosesan gas, dan lain-lain.

Pihak ketiga menjadi kontributor utama pendapatan sebesar USD921,63 juta atau lebih tinggi dari sebelumnya USD813,41 juta. Pihak berelasi tercatat USD542,92 juta atau lebih rendah dari sebelumnya USD655,74 juta. 

Baca Juga : PT Equityworld Futures : Emas lebih rendah pada masa dagang Asia

Kemudian, pendapatan distribusi gas bumi terdiri dari distribusi gas kepada industri dan komersial tercatat USD1,15 miliar atau lebih rendah dari sebelumnya USD1,18 miliar, rumah tangga tercatat USD8,19 juta atau lebih tinggi dari sebelumnya USD4,08 juta, dan SPBG tercatat USD1,04 juta atau lebih tinggi dari sebelumnya USD1,03 juta.

Perseroan menjelaskan, penjualan minyak dan gas merupakan pendapatan atas penjualan minyak dan gas grup dari aktivitas produksi yang diperoleh dari kerja sama operasi minyak dan gas. 

Lalu, sewa fiber optik merupakan pendapatan PGASKOM atas penyediaan jaringan kepada pelanggan, dan pendapatan lain-lain merupakan pendapatan PGASSOL atas penyediaan jasa konstruksi dan pemeliharaan jaringan pipa kepada pelanggan.

PGAS mencatatkan adanya kenaikan beban pokok pendapatan di kuartal II-2021 menjadi USD1,01 miliar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya USD1 miliar. Sementara itu, beban niaga dan infrastruktur turun menjadi USD156,97 juta dari sebelumnya USD174,80 juta, beban umum dan administrasi turun menjadi USD82,10 juta dari sebelumnya USD88,57 juta, dan beban keuangan turun menjadi USD80,32 juta dari sebelumnya USD84,10 juta.

Sementara itu, kas neto yang diperoleh dari aktivitas operasi tercatat USD275,16 juta, kas neto yang diperoleh dari aktivitas investasi tercatat USD11,30 juta, dan kas neto yang digunakan untuk aktivitas pendanaan tercatat USD103,05 juta.

Perusahaan Gas Negara mencatatkan liabilitas sebesar USD4,35 miliar dan ekuitas USD3,17 miliar. Adapun total aset perseroan menurun menjadi USD4,35 miliar dibanding tahun 2020 sebesar USD4,57 miliar.

 

 

 Equityworld Futures